On Salatiga Notes

Kapitalisme Orde Manoppo: Senandung Raja Kecil

Kota tua yang hijau dan teduh. Hutan pinus dan cemara di tengah kota. Memandang megah gunung Merbabu di sisi barat seperti raksasa batu, tinggi menjulang megah. Sungguh Kota yang membuatku rindu, pada panorama pagi dan malam yang dingin. Jatuh hati ingin kembali, selalu kembali….

Jejeran bangunan tua gereja-masjid saling berbagi damai. Pasar dan mall tak jauh berjarak. Seratus meter dari mall satu-satunya tengah berkerumun komunitas pedagang di pasar raya. Menyenangkan sekali menghabiskan waktu sekedar berbelanja atau berjalan kaki mengelilingi kota tua ini. Santai, nyaman seperti lupa waktu.

Semua tengah berbenah untuk berubah. Tak juga kota ini. Sebulan lagi akan dilaksanakan pesta pora pemimpin. Pemilihan walikota. Semua merasa siap dan ingin menang. Padahal aku begitu tahu, bagaimana latar belakang dan agenda tersembunyi para calon pemipin ini. Mereka tengah membujuk seluruh warga kota, bahwa esok kota ini akan di bangun dan dijual kepada pengusaha-pengusaha kaya. Tak meninggalkan secuilpun kelegaan bagi para penjual koran, pedagang asongan dan sedikit petani yang tersisa di daerah pinggir.

kesakitan hati pada pemipin di kota ini pernah tergores. Tatkala tugas akhir skripsi yang menghubungkanku dengan elite kota. Menguak kedok, dan menyimpulkan bahwa perselingkuhan paling prestisius antara negara dan pemodal raksasa yang memiliki berbagai aset bangunan, terlibat dalam konspirasi merebut tanah petani penggarap. Mereka terlibat dalam perjanjian palsu, jauh-jauh hari….

Tak terdengar teriak berontak dari warga. Diam saja karena mengerti atau memang tak mengerti. Sementara para penjaga keamanan, dan para peneliti di universitas yang seharusnya menjadi pendekar di garda depan. Justru membebek pada kekuasaan. Sibuk mengurusi penelitian hal-hal remeh temeh yang telah mendarah daging dalam rutinitas. Sebagai alasan pembenaran atas tindakan dosa.

Kedamaian dan rasa nyaman pada kota ini lalu berganti menjadi kengerian dan kemuakan. Pada sistem ramah tamah dan segala embel-embel keimanan. Kekecewaanku pada batas nadir yang tak termaafkan. Pada sosok walikota yang menjadi raja kecil, dengan tindakan sesuka hati. Pada kekuatan bersenjata yang merasa gagah dengan menempeli plat bahwa, “maaf ini areal bersenjata dan anda seharusnya tertib”. Atau pada keramahan warga kota yang malu-malu dan ramah tamah. Kuterima itu sebagai kemunafikan paling kejam atas segala atribut intelektualitas dan simbol-simbol rasionalitas yang sengaja di bangun di kota ini.

Kota ini berwajah bopeng. Tak sanggup menjelaskan nasib ribuan warga yang terpaksa memburuh. Atau kekejaman rezim kota yang tolol, gagal mencegah arus buruk modernitas sehingga ratusan bahkan ribuan pelajar jatuh pada industri pelacuran dan seks liar. Membiarkan industri seks berkembang bahkan menjadikan aset mahal. Tega, mengeruk besarnya pajak yang di dapat dari keringat para penjaga karaoke.

Semua lembaga menjadi industri. Tak terkecuali institusi resmi negara. Menjadi penjual rakyat, mengkomoditaskan urusan warga yang dari hakikatnya sengaja buat dependent. Untuk seterusnya di tololi, di medan rumah sakit, dimedan pencalonan PNS. Pejabat sama saja vampire, melemahkan, dan memangsa darah publik.

Inilah Kota yang berkemasan menarik dengan kedalaman kosong melompong. Paradoks-paradoks yang terus bertambah dari hari ke hari. Semakin mengkota, semakin menggila. Semakin mahal bagi para penghuni tak berduit, bagi masyarakat Ngebong yang bekerja serabutan, menjadi preman, menjadi pengamen, menjadi pemancing dari pagi yang malamnya hasilnya untuk dimakan sekeluarga.

Semua yang kita lakukan di kota ini tak berguna. Seperti teriakan di riuh rendah suara suporter bola, atau bising bengkel dengan sepeda motor yang di bleyer gasnya. Kota ini keras kepala, dengan pemimpin, warga, polisi dan keamanan dan pelajar. Kota ini telah mati dalam kehidupannya.

Aku dan dinamika otakku, seperti mendengarkan si bisu beryanyi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s