Sebuah Eksplorasi untuk Ben Anderson (1936-2015)

Posted: Desember 14, 2015 in Tak Berkategori

Siang Hari, Tiga Belas Desember 2015 seorang Indonesianis dan sejarawan ahli Asia Tenggara Ben R’OG Anderson meninggal di Jawa Timur, tepatnya kota Batu-Malang. Ia meninggal karena mendadak terserang suatu penyakit  sesaat setelah berbaring di sebuah hotel. Ben melewati masa 79 tahun yang penuh arti terutama secara akademis. Imagined Communities: Reflections on the Orogins and Spread of Nationalism yang terbit pada tahun 1983 terjual seperempat juta kopi, dan diterjemahkan lebih dari 20 bahasa. Buku terbitannya itu, kini menjadi buku babon dalam studi terkait tema gerakan nasional.

Sekali lagi, kita perlu angkat topi atas sumbangan-sumbangan Ben dalam memperkaya khasanah pengetahuan sosial politik di tanah air dan dunia. Selamat jalan Ben…

Komunitas Terbayang/ Imagined Communities begitu kesimpulan yang dibuat Ben untuk melihat negara bangsa/ nation state.  Kemudian saya jadi berfikir bahwa Ben telah melakukan petualangan intelektual mendalam tentang konsep nasionalisme. Ben telah cukup jauh tidak hanya mengambil potret-potret pemikiran daripara pendahulunya, namun lebih jauh Ben melihat fenomena nasionalisme dari perspektif yang ia kembangkan sendiri di tangannya.

Terus terang saja saya merasa suka dengan orang yang diusir Soeharto dari Indonesia ini karena saya kira ia seorang Marxist atau Anarkis. Ben secara intelektual memiliki kemiripan dengan James C. Scott yang radikal dalam berfikir dan mengembangkan pengetahuannya dengan berbagai penelitian di Asia Tenggara. Bahkan sebagai seorang sejarawan sosial politik Ben jauh lebih nekat berani menerabas mengecam status quo, bahkan sampai ia diusir oleh pemerintah dari negeri yang mana ia teliti (Riset doktoralnya tentang kup 1965 membuat Soeharto marah).

Epistemologi Teoritik Ben

Mendekati pemikiran Ben, saya ingin melakukan pembacaan dan perbandingan Ben dalam berbagai karyanya. Dimulai dari Imagined Communities (1983), The Spectre of Comparisons: Nationalism, Southeast Asia and the World (1998), The Age of Globalization (2013), dan A Life Beyond the Boundaries: A Memoir (2015).

Pemikiran sarjana kampus Amerika Serikat  (ben lahir di China belajar di Inggris dan mengajar di AS) seringkali harus berbau liberal dan anarkis (negara kapitalis). Ben tidak bisa dengan mudah kita masukkan ke dalam kategori seperti itu. Ben orang yang cukup ilmiah sehingga nampak hati-hati dalam menyusun pemikirannya. Ben dalam rangkaian pemikirannya mengawinkan ide Marxist dengan kolonialisme. Kesimpulan Ben bahkan sama dengan kebanyakan sejarawan Marxist dimana nasionalisme menjadi antitesa dari realitas imperialisme kolonial di masa lalu.

Saya seringkali cepat ‘mengendus’ bau liberal ini dari pengalaman belajar di Fisipol di sebuah universitas di Indoneisia. Di sana, banyak hegemoni dinisbatkan kepada mahasiswa oleh para intelektual kampus. Dari akademisi Amerika Serikatlah muasal dari tuduhan jika banyak negeri dunia ketiga sebagai kurang demokratis, otoriter, irasional dan lain sebagainya untuk bersembunyi dibalik imperialisme ekonomi yang dilakukan.

Nama-nama seperti Duverger, Verba, Lucian Pye adalah deretan akademisi politik Amerika yang saya kira hanya menyalahkan negara-negara dunia ketiga sebagai obyek demokratisasi yang menjadikan banyak ilmuwan politik tanah air ‘mandul’.  Pun begitu, harus diakui jika beberapa sarjana barat cukup jujur dan adil sehingga menghasilkan karya yang orisinil dan bermanfaat dalam menjelaskan peristiwa kebangkitan nasional dan fenomena sosial di tanah air.

Ben dalam Teori dan Kritik

Sebelum membuka kritik pemikiran, kita perlu melakukan penjelajahan atas gagasan Ben lebih dahulu tentang negara bangsa sebagai komunitas terbayang. Dari buku Imagined Communites Ben mengatakan jika,negara bangsa sebagai sebuah imajinasi komunitas politik (1983: 6) dengan alasan, jika negara-bangsa sebagai sesuatu yang dibayangkan “karena para anggota dari sebagian bangsa sampai anggota terkecil tidak pernah tahu sebagian besar dari para pengikut, saling bertemu, atau pernah berbincang, namun dalam pikiran dari sebagian penghuni tetap hidup gambaran dari kesatuannya” (1983: 6).

Selanjutnya Ben dalam menjelaskan komunitas terbayang mendeskripsikan 3 prasyarat yakni; ada batas, kedaulatan dan sebagai komunitas. Batas berarti ruang kewilayahan dimana sebauh bangsa memiliki luas tertentu, sementara bangsa juga memiliki kedaulatan dimana ia bisa saja mengganti dari satu model pemerintahan ke model pemerintahan lain, dan terakhir adalah komunitas dimana sebuah bangsa juga memiliki perasaan solidaritas diantara warganya termasuk perasaan ketidak-adilan dll.

Kritik mengguncang teori komunitas terbayang dari Ben datang dari pengalaman negeri Bosnia atau kebangkitan negara bangsa yang terbentuk karena semangat agama seperti di Iran dan Turki. Pengalaman negara bangsa itu sedikit berbeda dengan apa yang menjadi prasyarat Ben, dalam wilayah, kedaulatan, dan solidaritas.

Papua, Timor, Aceh dan Nation-State Kita

Teori negara bangsa Ben lebih tepat digunakan dalam meneropong fenomena terbentuknya intergrasi dalam sebuah negara bangsa. Sementara itu, sisi menarik yang sayangnya kurang mudah ditelaah dari teori ben tentang Imagined Communities adalah apabila terjadi disintegrasi dalam sebuah negara bangsa seperti yang pernah terjadi di Indonesia dengan Timor-Timur tahun 1998. Atau baru-baru ini Papua yang menginginkan lepas dari Indonesia.

Jika kita tetap menarik pelajaran dari Ben, bahwa apa yang dibayangkan antara orang Indonesia mungkin berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh orang Papua. Ortodoksi bayangan kebangsaan kita terbentur dalam batas wilayah, kedaulatan dan akhirnya ke solidaritas antarpenduduk yang dipaksakan di Papua.

Saya kira, melihat peran historis dan kesejarahan di masa lalu, memang harus diakui bahwa kolonialisme barat telah cukup membantu bagi ‘naturalisasi konsep’ terciptanya komunitas terbayang bernama Indonesia. Di luar itu perang perebutan Papua tahun 1964, nation-state bernama Indonesia di Papua perlu diresapkan kembali kepada warga Papua, agar jangan sampai dikiranya warga Papua, Indonesia justru dianggap kolonialis model baru yang harus dienyahkan demi integrasi negara bangsa Papua ke depan. (Arif Burhan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s