Bertamasya ke Alam Eksistensialis

Posted: Juni 1, 2015 in Filsafat, IDEA
Tag:, , , ,

Berarti atau tidak kehidupan, eksistensi adalah moral borju oleh sebab, 1) ide berkecenderungan sekedar menjadi perenungan, 2) aktualisasi diri hanya mungkin bagi yang tidak terdeterminasi.

Kalau ditarik ke belakang dalam genealogi eksistensialis sebetulnya filsuf eksistensialis seperti terbelah dalam dua kubu. Karena hal itu, kita tidak mungkin mengkualifikasi eksistensialis sebagai satu sebutan yang sama. Dua kubu Ini terkait dengan bagaimana mereka menggali sumber epistemologi. Satu adalah makna eksistensi yang dicari dari hal yang mikro individual dengan menjawab masalah-masalah infantil seperti siapa kita? darimana? mau apa? Perdebatannya para eksistensialis ini masih sekitar pencarian makna kehadiran/ keberadaan diri dihadapkan pada kontroversi rasionalisme, teologi etc. Saya menyebutnya filsuf ekspresif, yang masuk dalam golongan ini adalah eksistensialis pra-frankfurt school.

Perseteruan pandangan yang menarik dalam pembicaraan ini adalah mengkontraskan antara gagasan Kierkegaard dengan Nietzsche. Kierkegaard melihat tidak akan ada maknanya hidup ini, tanpa keberadaan tuhan. Sebaliknya dengan Nietzsche justru tuhan harus dibunuh agar hidup bisa dimaknai.

Berlanjut pada pembahasan kubu eksistensialis berikutnya. Kedua adalah filsuf yang membenturkan keberadaan dengan peristiwa di luar diri, atau sosial. Beberapa kategori psikolog marxis masuk dalam kategori ini, seperti Fromm, Marcuse, etc. Karena sangat percaya pada ajaran Marx, eksistensialis jenis ini nampak telaten melihat kapitalisme/ determinasi ekonomi sebagai hal yang sentral bagi dinamika eksistensi individu. Dalam telaah eksistensialis sosial, pengaruh sosial menyumbangkan pengaruh bagi diri. Filosofi-filosofi eksistensialis generasi frankfurt school melakukan falsifikasi dari berbagai peristiwa sosial, diantaranya seperti perkembangan kejiwaan buruh pabrik di dalam proses produksi kapitalisme, ketegangan antara individu modern dengan autonomous technology, genosida Nazi, PD II, demonstrasi mahasiswa Perancis tahun 1968, dan perang dingin antara Uni Soviet dan AS sampai dengan tahun 1991.

Kesimpulan sementara saya, dalam menjelaskan eksistensi kubu pertama mengawali dari keberhasilan seorang diri dalam menjawab pertanyaan hal-hal yang sifatnya infantil, kontras dengan kubu kedua yang berusaha menjawab pertanyaan eksistensi dari  keberhasilan menjelaskan peristiwa-peristiwa sosial.
#membosankannyahidupwaktuwaktuini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s