Demokrasi Tanpa Advokasi

Posted: Agustus 24, 2014 in Tak Berkategori

Pengembangan demokrasi yang berarti “pemerintahan rakyat” (demos dan cratein). Rakyat dalam pengertian ini mencakup semua lapisan dalam masyarakat. Dalam arti ini kita perlu memberangus sikap ketidaktahuan (ignorance) para pemimpin agar emansipasi yang lebih demokratis dapat terwujud.

Agenda-agenda emansipatoris selayaknya harus bebas ideologi. Demokrasi selalu menyiratkan emansipasi. Dalam arti ini, sebagai proses sejarah tindakan demokratis harus pelan-pelan menyingkirkan batu-batu pertentangan elit dan massa. Demokrasi bukanlah semata-mata pilihan. Semata-mata adalah demokrasi di mana kepentingan umum dan pribadi dipertimbangkan di parlemen dan publik tanpa membedakan mengenai siapapun, satu sama lainnya dipertimbangkan. Demokrasi adalah suatu emansipasi yang merupakan bentuk yang dapat diterima.

Emansipasi dalam demokrasi rawan menjadi alat kepentingan pribadi saat partai-partai politik mengartikan tujuannya sendiri di atas kepentingan umum. Jelas saja, praktik demokrasi yang saling menyisihkan dan terlibat dalam pertempuran interessan sempit seperti ini adalah salah kaprah dan konyol. Jelas praktik ini dengan sendirinya akan menegasi makna demokrasi sendiri (kuasa rakyat), yang apabila tidak ada kesadaran dari penguasa (rulling class), niscaya rakyatlah yang lalu merebut tongkat estafet demokrasi dalam sebuah konflik kelas.

Dalam sejarahnya, demokrasi tumbuh dari kancah revolusi Perancis pada Tahun 1789. Dimana pada saat itu terdapat tiga kekuatan utama dalam masyarakat Polis (city state) ialah: Monarchie, Aristocratie dan masyarakat. Dalam revolusi perancis tadi, kelas Aristokrasi dan Borjuis menyusun kup melawan kekuasaan feodalisme raja. Dan secara tidak langsung kekuatan utama yang mendorong keberhasilan revolusi pedagang kapitalis tersebut (borjuasi dan aristokrasi) tersebut adalah keberhasilan pihak aristokrasi dan borjusi berkomplot dengan proletar (massa buruh). Semboyan utama revolusi Perancis yang sangat terkenal berbunyi : egalite (kesetaraan), fraternite.

Adanya kelas yang berlapis-lapis dalam masyarakat, timbul dengan merujuk pada kepemilikan sumber dan alat-alat produksi. Pandangan dunia yang berbeda yang timbul dari kepemilikan alat-alat produksi inilah yang selanjutnya menciptakan kelas-kelas di masyarakat. Kelas pemilik memiliki karakter pesimistis dalam memandang perubahan sosial di masyarakat. Sebaliknya, kelas pekerja senantiasa bersikap optimis terhadap setiap perubahan sosial, utamanya menyangkut posisi dan kepemilikan alat-alat produksi.

Perubahan sosial massa membutuhkan kepemimpinan yang dapat dipercaya. Dan gerakan massa ini membutuhkan kepemimpinan elit yang benar-benar memiliki kesadaran massa yang tinggi. Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam setiap perubahan demokratis, senantiasa dihadapkan pada dilema-dilema kepemimpinan. Timbul pertanyaan apakah elit dalam gerakan massa ini benar-benar nantinya sanggup memegang mandat perubahan sehingga, nasib kaum termiskin dari yang miskin dapat terangkat?

Dalam bukunya mengenai “Elit dan Massa”, W.F. Wertheim mengangkat tentang sosiologi ketidaktahuan atau (Ignorance sociology) untuk menyebut pengabaian elit terhadap massa ini. Fenomena Ignorance tersebut mencakup persoalan tentang rasionalisasi atau keluguan, tentang ketidaktahuan karena memang elit tidak ingin tahu. Dan kedua, fenomena ignorance merujuk pada strategi yang memang disadari dan disengaja: yaitu bahwa massa rakyat memang disesatkan (misled). Para elit itu “sebetulnya tahu” tetapi menyimpan pengetahuan tersebut untuk mereka sendiri dan pengetahuan itu akan digunakan jika perlu.

Kita semua tahu bahwa kehidupan petani dan buruh, baik di kota dan desa hidup dalam situasi; keterhisapan, kemiskinan, kebodohan, dan kemelaratan ekonomi, yang bersifat struktural, sistematik, dan kontinyu namun para pejabat dan elit pengambil keputusan menganggap mereka sebagai “tidak penting, “tidak perlu dihitung” dalam setiap mekanisme pengambilan keputusan. Disinilah pengabaian ataukah ketidaktahuan elit dapat diukur sekaligus penting.

Dalam kondisi masyarakat pasca feodal alias kapitalis, kesadaran palsu yang timbul dari pengetahuan tentang perkembangan sosial ini sebagian besar dimainkan oleh para politikus, aktivis dan akademisi pengkaji emansipasi orang-orang terpinggir/ bukan pemilik. Dapat kita saksikan dari sistematika berfikir yang mengobyektifikasi orang-orang miskin ini sebagai komoditas mengeruk keuntungan ekonomi sempit baik atas nama perorangan maupun kelompok.

Lantas bagaimana dengan prospek demokrasi dalam kultur dimana immutabilitas ini diterima sebagai sesuatu yang lumrah dapat dilangsungkan? Lukacs mengembalikannya kepada kesadaran kelas proletar sendiri untuk bangkit malenyapkan kesadaran palsu dalam dirinya dan segera berjuang sendiri dalam kancah pertarungan kelas (class struggle).

Pertarungan kelas adalah perjuangan demokratis yang sejati, dimana kelas-kelas terhisap dapat membangun gerakannya secara koletktif dan tak terindividualisasi melawan status quo. Inilah konsekuensi posisi sebagai kelas non pemilik alat produksi. Dan pertarungan kelas ini juga selaras atas optimisme bahwa kesetaraan dan keadilan, seperti yang eksplisit termuat dalam nilai demokratis dapat dan akan terciptakan dalam kehidupan bermasyarakat. Akhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s