Memburu Hasrat Pegawai Negeri

Posted: Agustus 24, 2014 in EKONOMI

Kemudian berbondong-bondong pelamar mendaftar seleksi pegawai negeri. Di warnet, kantor pos, foto copy. Laki-Perempuan seperti kalap, memburu mimpi di buru obsesi menjadi pegawai negeri.

CPNS menjadi jabatan prestisus. Saat kursi kerja sedemikian langka. Saat akses mencari uang begitu sulit dan kompetitif. Lowongan CPNS secara besar-besaran seperti nafas baru di tengah tuntutan ekonomi yang menyesak.

Lowongan pusat dan daerah gembar-gembor di media. Pendaftaran on-line yang berlangsung secara singkat menjadi keluhan pendaftar. Setelah berkas di kirim, seleksi administrasi ditunggu, memaksa adrenalin pelamar ditahan. Sebelum pengumuman tes diumumkan. Dan langkah-langkah realisasi mimpi semakin dekat tes tertulis, psikologi dan wawancara.

Di luar hiruk pikuk proses teknis seleksi CPNS, isu jual kursi CPNS menyeruak ke publik. Bahwa, usah mendaftar kalau tidak punya koneksi dan uang minimal 50 juta. Efeknya, mereka yang mengandalkan intelektualitas terguncang mental. Pesimisme dan situasi kalah sebelum berperang menjadikan nuansa tes CPNS seperti pesta perkabungan.

Apakah fenomena perekrutan CPNS sekedar ritualitas tanpa makna? Apakah mereka yang ikut dalam arus putaran mimpi menjadi pegawai negeri seperti terjebak pada dunia culas yang tak di sadari. Kalau benar-benar ini terjadi, rasanya drama CPNS harus di sudahi. Sebab tak ada arti mendengarkan upacara pembukaan, tata aturan ujian dan pengerjaan soal-soal berjam-jam di stadion atau ruang seleksi terulis, wawancara dan tes psikologi tadi.

Tragik Birokrasi

Drama profesionalitas birokrasi sebagai agenda pembaruan amanat reformasi menjadi simfoni usang. Amoralitas pejabat publik dengan kepentingan-kepentingan materiil individual faktanya semakin terang-terangan. Nuansa pemburu rente ala kapitalisme birokrat semakin diterima sebagai kebenaran amanat jabatan. Memanfaatkan jabatan untuk mengeruk untung dari peserta CPNS.

Kalau seleksi ini benar diatur. Pejabat publik tak ubahnya dengan partai politik. Sambil menguri-uri budaya feodalistik, membentuk sebuah sketsa oligarkhi di lingkungan departemennya. Menyusun struktur yang sistematis, aman dan mudah dalam melanggengkan habitus (kebiasaan) korupsi.

Tes CPNS di tengah rimba krisis ekonomi. Seharusnya tak memacu penggadaian nurani. Sebab sebagai ruang mencari generasi negeri yang profesional dan berkualitas, negara membutuhkan performa pejabat yang pantas dan cakap. Mengawal negara ini mewujudkan masyarakat yang cerdas dan cakap.

Mekanisme rekruitmen yang bersih setidaknya akan meminimalisir potensi munculnya pejabat-pejabat kotor. Dan, bisa jadi dulu Gayus Tambunan dan teman-temannya lahir dari budaya rekruitmen semacam ini. Menyogok demi jabatan dan mengeksploitasi jabatan demi uang.

Akhirnya pemerintah pusat tak boleh luput dari pelibatan diri menciptakan proses seleksi yang kondusif . Setidaknya, seruan kepala kementerian maupun kepala daerah baik tertulis maupun lisan bahwa tes CPNS yang di selenggarakan di lingkungannya bersih menjadi kewajiban. Agar ada jaminan transparansi maupun jaminan tidak dipungutnya biaya benar-benar terealisir dan di tangkap publik sebagai perangkat kontrol.

Dan akhirnya, seleksi CPNS bukan sekedar ritualitas tanpa seleksi. Sebab pemimpin benar-benar mampu menjadi avant garde yang melawan serta memberantas calo-calo jabatan di lingkungannya. Memberikan sanksi hukum jika terbukti aparatnya memanipulasi hasil tes CPNS. Dan akhirnya ruang-ruang hidup bagi tumbuhnya pejabat publik pengeksploitasi jabatan menjadi kerdil tidak berkembang. Semoga ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s