Sajak-sajak Wiji Thukul

Posted: Agustus 23, 2014 in Sastra
Tag:,

ibu

jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup yang tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu

gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata

apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera

jalan mana harus ditempuh anak
jika bukan yang biasa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri?

MONUMEN BAMBU RUNCING

monumen bambu runcing
di tengah kota
menuding dan berteriak merdeka
di kakinya tak jemu juga
pedagang kaki lima berderet-deret
walau berulang-ulang
dihalau petugas ketertiban

semarang, 1-3-1986

PUISI UNTUK ADIK

apakah nasib kita terus akan seperti ini
sepeda rongsokan karatan itu?
o tidak dik!
kita akan terus melawan
waktu yang bijak-bestari
kan sudah mengajari kita
bagaimana menghadapi derita
kitalah yang akan memberi senyum
kepada masa depan

jangan menyerahkan diri kepada ketakutan
kita akan terus bergulat

apakah nasib kita terus akan seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
o tidak dik!
kita harus membaca lagi
agar bisa menuliskan isi kepala
dan memahami dunia

solo, 25-5-87

SAJAK ANAK-ANAK

anak-anak kecil
bermain di jalan-jalan
kehilangan tanah lapang

pohon tumbang
tembok didirikan
kiri kanan menyempit
anak-anak terhimpit

anak-anak itu anak-anak kita
ingatlah ketika kau mendirikan rumah
ingatlah ketika kau menancapkan
pipa pabrik

anak-anak kecil berdesakan
sepakbola di jalan-jalan
bila jendela kacamu berantakan
tengoklah anak-anak itu
pandanglah pagar besimu
sungguh luas halaman rumahmu

solo, 9-6-87

SUARA DARI RUMAH MIRING

di sini kami bisa menikmati cicit tikus
di dalam rumah miring ini
kami mencium selokan dan sampah
bagi kami setiap hari adalah kebisingan
di sini kami berdesak-desakan dan berkeringat
bersama tumpukan-tumpukan gombal
dan piring-piring
di sini kami bersetubuh dan melahirkan
anak-anak kami

di dalam rumah miring ini
kami melihat matahari menyelinap
dari atap ke atap
meloncati selokan
seperti pencuri

radio dan segenap penjuru
tak henti-hentinya membujuk kami
merampas waktu kami dengan tawaran-tawaran
sandiwara obat-obatan
dan berita-berita yang meragukan

kami bermimpi punya rumah untuk anak-anak
tapi bersama hari-hari pengap yang
menggelinding
kami harus angkat kaki
karena kami adalah gelandangan

solo, okt. 87

Sumber buku
wiji thukul, mencari tanah lapang, manus amici, 1994 (kumpulan sajak ini dan lainnya memenangkan Wertheim Encourage Award, 1991).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s