Sajak Klasik : Sapardi Djoko Damono

Posted: Agustus 8, 2014 in Klasik Indonesia, Sastra

MATA PISAU

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir; ia tajam mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam; ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

Horison, No. 1 Tahun IX

Sapardi Djoko Damono

SELAMAT PAGI INDONESIA

selamat pagi, indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu
dalam kerja yang sederhana;
bibirku yak terbiasa mengatakan kata-kata yang sukar
dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membantu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu demi batu ketabahan, benteng kemerdekaanmu.
pada setiap matahari terbit, o anak jaman yang megah,
biarkan aku memandang ke timur untuk mengenangmu.
wajah-wajah yang penuh anak sekolah berkilat,
pada perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
selamat pagi, indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada anak kecil;
terasa benar: aku tak lain milikmu.

Basis: Semerbak Sajak

Sapardi Djoko Damono

DOA PARA PELAUT YANG TABAH

kami telah berjanji kepada Sejarah
untuk pantang menyerah.
bukankah telah kami lalui pulau demi pulau, selaksa pulau,
dengan perahu yang semakin mengeras
oleh air laut.
selalu bajakan otot-otot kami, ya Tuhan,
yang telah mengayuh sentah sejak kapan;
barangkali akan segera memutih rambut kami ini,
satu demi satu terasa letih, dan tersungkur mati,
tapi berlaksa anak-anak kami akan memerang dayung
serta kemudi
menggantikan kami, kamilah yang telah mengayuh perahu-perahu sriwijaya serta majapahit

mengayuh perahu-perahu makasar dan bugis,
sebab kami telah bersekutu dengan Sejarah
untuk menundukkan lautanlaut yang diam adalah sahabat kami,
dan laut yang memberontak dalam prahara dan topan
adalah alasan yang paling baik
untuk menguji kesetiaan dan bakti kami
pada-Mu.
barangkali beberapa orang putus otot-otot lengannya,
yang lain pecah tulang-tulangnya, tapi anak-anak kami yang setia
segera mengubur mereka di laut, dan melanjutkan perjalanan
yang belum selesai ini.
biarlah kami bersumpah kepada Sejarah, ya Tuhan,
untuk membuat bekas-bekas yang tak terbatas
di lautan.

Basis, XV-4, Januari 1965
Semerbak Sajak

Sapardi Djoko Damono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s