Sajak Bur Rasuanto dan Mansur Samin

Posted: Agustus 7, 2014 in Klasik Indonesia, Sastra

TELAH GUGUR BEBERAPA NAMA

Sajak Bur Rasuanto

telah gugur beberapa nama
telah gugur
atas nama kita semua
warga berhati damai yang bertahun
telah diperhamba
atas nama jiwa-jiwa agung
yang namanya terpahat di hati kita
serta atas nama sejarah dan kemanusiaan
yang dengan paksa telah dibengkokkan
telah gugur beberapa nama
telah gugur
dan semua yang mengerti
akan makna keadilan dan harga diri
mengenakan lencana belasungkawa
bersama doa di tepi jalan
melepas pawai duka ke pemakaman
atau serta dalam barisan
dan berbagai simpati tak terucapkan

telah gugur beberapa nama
telah gugur
atas kehilangan kita semua, atas duka kita semua
atas simpati demi simpati yang tak terkirakan ini
apakah lagi yang lebih berharga
dari segala upacara dan pernyataan
selain nanti pada ziarah yang pertama
dan sekalian karangan bunga ini
telah luluh menghitami pusara
kita pun kembali dengan berita sederhana

bahwa perjuangan telah dimenangkan
oleh warga jelata
yang bertahun telah dihinakan
oleh semua
untuk siapa nama-nama ini
telah rela rebah ke bumi.

dari “Mereka Telah Bangkit”

Bur Rasuanto

ODE PEMAKAMAN
Sajak Mansur Samin

Inilah kami tiap lapisan warga kotamu
yang datang kemari dari segala penjuru
untuk menyampaikan salam duka kami
saat jenazahmu diantar ke tempat terakhir

Lihatlah kami yang berdiri sepanjang tepi tepi jalan ini
terdiri dari buruh, pelajar, prajurit
bapa tani, pedagang, pengarang dan penyair
yang tak sempat mengenalmu dengan baik
tapi saling mengerti untuk siapa kau mati

Kami telah saksikan kau seharian demonstrasi
berkelahi dengan berani untuk kepentingan kami
padahal tak tentu tidur dan makan cuma sekali
dalam meneruskan perlawanan
sebagai amanat rakyat yang minta kebenaran

Biarkanlah kami bicara lewat hati yang berdetak
turut menyampaikan belasungkawa penuh ketulusan
Biarkanlah kami berbicara lewat kesunyian yang menyesak
sebab percaya nasib kamilah yang kau pertaruhkan

Lihatlah itu cakrawala kesumba di kejauhan
mega-mega pucat, matari mendung bagai mengucap selamat jalan
Lihatlah itu, ibu-ibu, anak-anak mengulurkan air dan rambutan
karena duka tak bertahan, mereka melambai tangan dikepalkan
sebagai pembecak, turun pekur, membuka topi penuh hidmat

Kami telah baca bunyi spanduk yang berkibaran
berisi kata-kata nurani kami yang disimpan seharian
Kami telah melihat jaket kuning terpancang di tiang
berdarah kering, darahmulah itu darah yang jujur
mewakili darah rakyat, darah yang lapar dan tulus

Lihatlah mobil-mobil terus datang di belakang
beribu teman mengantar jenazahmu ke makam
Lihat setiap pinyu jalan Diponegoro yang panjang
beribu jiwa, beribu kepala
mendengar khusuk riwayatmu dibaca penuh kesyahduan

Lewat bendera kabung setengah tiang
kami sampaikan salam duka yang dalam
ini pengorbanan, ini ketulusan
selalu kami kenang, kami tak lupakan

Dari Perlawanan

Mansur Samin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s