PENDERITAAN

Posted: Juli 6, 2014 in Klasik Indonesia, Sastra
Tag:, ,

Oleh

Marlupi [Nama sebenarya: Utari Kusno. Di masa Jepang guru Taman Siswa di Ambarawa.]

 

Jiwa menangis diiris sedih,

Bermuram durja penuh kesedihan

Jiwa tersedu menangis merintih

Badan terkulai penuh penderitaan.

 

Bagai terdengar angin menderu-nderu,

Awan terbang bergulung-gulung,

Halilintar gemuruh bagai peluru,

Semesta ‘alam bagai berkabung.

 

Tak ada kawan menghapus gundah,

Tak terdengar langkah orang bertandang,

Sendirilah jiwa rasa tenggelam di air bah,

Tidak terdengarkah orang mejelang?

 

Hanya terdengar angin menderu-deru,

Di angkasa dingin nan lebar,

Adakah orang mengulurkan tangan itu?

Ya, Tuhan membisikkan supaya sabar.

 

Jiwamu sendiri kawanmu sekandung,

Tuhan sendiri tempat berlindung,

Supaya percaya

Senantiasa

 

Bahwa segala penderitaan diri,

Tak seberapa dengan penderitaan dunia ini;

Bahwa segala penderitaan lambat laun

Akan hilang disapu waktu.

 

Januari 1943

Sumber:

Yassin, H.B. Gema tanah air : prosa dan puisi, cet. 10. Jakarta, Balai pustaka, 1993

Diketik ulang oleh Arsip Indonesia blog untuk tujuan pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s