Khalil Gibran: UNTAIAN KATA-KATA CINTA

Posted: Juni 11, 2013 in Klasik Barat, Sastra

Di rumah sunyi, seorang pemuda duduk terjaga di pagi hari kehidupan. Ia kadang memandang keluar jendela, melihat langit yang berhias bintang-bintang dan kadang memandang foto seorang gadis di hadapannya. Goresan-goresan dan warna-warni foto itu terpantul di wajahnya, mengungkapkan misteri-misteri dunia dan rahasia-rahasia dari keabadian. Foto gadis itu berbiacra dengan rahasia kepada pemuda itu dan menuntun matanya pada telinganya yang memuatnya mengerti bahasa jiwa, yang melayang pada butiran-butiran udara kamar dan mengubah seluruh kehidupannya menjadi jiwa suka cita karena cinta dan kerinduan yang membara.

Satu jam berlalu seperti saat terindah dalam mimpi dan satu tahun dari rentang keabadian. Akhirnya pemuda itu meletakkan foto gadis itu di hadapannya, kemudian mengambil pena dan kertas, dan menulis,
“Kekasih jiwaku!
“Kebenaran sejati yang berada di atas alam tidak melalui satu manusia ke manusia lain atau melalui kata-kata manusia biasa. Mereka memilih kesunyian sebagai jalan di antara jiwa-jiwa. Aku mengetahui bahwa kesunyian malam bergerak cepat di antara jiwa-jiwa yang membawa pesan, pesan yang lebih sukar dimengerti daripada kata-kata yang ditulis oleh angin musim semi pada permukaan air. Ia menceritaakan kitab kedua hati kita ke dalam kedua hati kita. Tetapi seperti kehendak Tuhan yang mau memenjarakan jiwa ke dalam tubuh, ia merupakan kehendak cinta untuk membuatku bagai tahanan kata-kata. Mereka mengatakan, O kekasih, cinta diubah menjadi abdinya di dalam api yang membara. Telah kuketahui bahwa perpisahan tidak mampu menghapus tanda-tanda kedua jiwa kita. Seperti yang kuketahui saat pertemuan pertama jiwaku telah memahami jiwamu di keseluruhan kedua hati kita, seperti yang kuketahui bahwa pandangan pertamaku kepadamu bukanlah dalam kenyataan pandangan pertama. Kekasih! Saat itu adalah satu diantara beberapa saat yang telah membuat kokoh imanku dalam keberadaanku dan keabadian jiwa. Inilah waktu alam membuka wajah keadilannya yang tak terbatas, namun mereka menganggapnya sebagai sebuah tirani.

“Kekasihku, apakah engkau ingat taman itu, saat kita saling berpandangan? Apakah engkau mengerti bahwa tatapanmu membisikkan sesuatu padaku bahwa cintamu padaku tidaklah lahir dari rasa kasihan? Tatapan-tatapan itu mengungkapkan bahwa aku dapat mengatakan sendiri kepada diriku dan seluruh dunia bahwa pemberian yang ersumber dari kedilan adalah lebih besar daripada pemberian untuk amal, dan cinta yang lahir karena suasana adalah bagai air yang berhenti, tak mengalir.

“Di hadapanku, kekasihku, kuimpikan kehidupan yang agung dan indah. Kehidupan yang menemukan dengan harapan seorang lelaki akan datang, yang akan menjamin penghormatan dan kasih sayangnya, kehidupan yang bermula ketika aku bertemu denganmu. Aku yakin bahwa hal ini akan menjadi abadi, karena dengan penuh keyakinan aku akan dapat mengungkapkan kekkuatan yang Tuhan percayakan kepadaku. Ini adalah kekuatan yang akan terwakili dalam kata-kata dan perbuatan yang baik bagai matahari yang membuat bunga-bunga liar tumbuh di dalam padang rumput. Karenanya, cintaku akan terus bersemi kepadaku dan kepada generasi yang akan datang, kemurnian egotisme yang akan melanjutkannya dan dimuliakan di atas kemunduran yang akan menahannya darimu.
Pemuda itu berdiri dan berjalan perlahan mengitari kamar. Ia memandang keluar lewat jendela dan melihat bulan bercahaya di atas cakrawala dan menghiasi langit dengan sinar lembutnya. Ia kembali duduk dan menulis dalam suratnya:
“Maafkan aku, kekasihku, karena aku telah memanggilmu engkau sebagai “engkau”. Bagiku engaku adalah sisi yang terang yang hilang ketika kita meninggalkan tangan Tuhan pada saat yang sama. Maafkan aku, kekasihku!”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s