Pemberontakan, Survival dan Penindasan dalam James C. Scott, Moral Ekonomi Petani

Posted: Maret 11, 2013 in Tak Berkategori
Tag:, , ,

Hal. 350

…Bagi banyak penduduk desa di Jawa, kenangan dari bagian akhir tahun 1965 dan awal tahun 1966 lebih menjerakan lagi. Adanya hubungan dengan PKI setempat saja biasanya sudah cukup bagi seseorang untuk menjadi korban teror. Teror ini mempunyai efek mematahkan kemampuan petani-petani miskin untuk mengorganisir perlawanan yang bagaimanapun terhadap perubahan-perubahan yang diadakan lebih belakangan ini dalam ketentuan-ketentuan penggarapan yang mengancam nasib mereka. Sudah barang tentu, dalam keadaan paling ekstrim mungkin benar bahwa orang yang melawan itu sudah buta terhadap resiko apapun. Akan tetapi dalam setiap keadaan sebelum dicapainya batas final itu, boleh jadi kenangan mengenai tindakan-tindakan penumpasan merupakan salah satu sebab utama dari tidak adanya perlawanan dan pemberontakan.

     Asumsi ini menimbulkan satu masalah konsepsial yang sangat penting. Bagaimana kita akan dapat mengukur potensi bagi timbulnya pemberontakan dengan tidak adanya kemungkinan untuk bertindak? Mari kita andaikan, umpamanya, kita dapat memastikan bahwa satu golongan petani tertentu sedang semakin dieksploitasi, menurut arti istilah itu sebagaimana yang telah kita definisikan, dan bahwa  sebagai akibatnya golongan petani itu menghadapi suatu krisis subsistensi. Mari kita andaikan selanjutnya bahwa kita sependapat negara memiliki kekuatan untuk menumpas setiap pemberontakan yang mungkin timbul. Orang dapat membuat paling tidak dua tafsiran yang berlainan mengenai situasi ini. Di satu pihak bisa dikemukakan bahwa, karena ideologi keagamaan atau sosialnya golongan petani itu menerima eksploitasi tersebut sebagai satu bagian yang normal, dan malahan dapat dibenarkan, dari tata sosial. Penjelasan seperti ini tentang ketiadaan pemberontakan-tentang sikap pasif kaum tani-mengasumsikan adanya satu sikap fatalistis yang menerima tatanan sosial atau oleh kaum Marxis mungkin akan dinamakan “mistifikasi”. Di lain fihak, dapat dikemukakan bahwa penjelasan tentang sikap pasif itu tidak akan ditemukan di dalam nilai-nilai yang dianut petani, melainkan di dalam perimbangan kekuatan di daerah pedesaan. …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s