Masalah Endemik Humanisme Universal, Dehegemoni Sastra Realis Proletariat dan Bangkitnya Romantisme Binal

Posted: Maret 8, 2013 in IDEA

… Aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya,
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Rendra, Sajak Lisong, 1977

Lalu perseteruan-perseteruan tentang bagaimana ukuran-ukuran sebuah karya sastra yang bermutu itu mencuat lagi. Beberapa kritikus mengkritik sastra arus utama, yang menulis marah tak terima karyanya dianggap tidak estetis. Polemik dalam sastra Indonesia menarik pikiran saya pada kejadian serupa berpuluh tahun yang lalu, telah pernah berlangsung pada era kepemimpinan Soekarno, perseteruan Manikebu dan Lekra. Tapi, stop! sungguh salah kita mengambil kemiripan pada masa lalu itu lalu menyamakannya pada situasi sekarang, ada perbedaan isi dan permasalahan yang mendasar yang terang berbeda antara dua polemik ini; Polemik Andrea dengan kritikus borjuis kecil, dengan polemik Manikebu dan Lekra. Ini bukan kritik oto-kritik karena level pemahaman dan dampak dari fenomena ini tidak akan merubah apapun. Polemik Andrea hanyalah ironi kecil dalam kancah sastra kita yang  sekedar mengaduk-aduk emosi.

Menurut hemat saya, kalau kita ingin maju dan menangkap apa yang menjadi permasalahan sastra kita sampai sejauh ini adalah hilangnya sebuah genre sastra karena dehegemoni yang dilakukan oleh penguasa yakni genre sastra realis proletariat.  Seperti karya Pram atau Gorky, Boris Polewoi, burning valley (Phillip Bonovsky), saya lebih sepakat menyebutnya karya realis proletariat.

Humanisme universal akan kita kubur hidup-hidup dari dunia sastra kita, kalau kita benar-benar seorang yang bersepakat dengan realis proletariat. kenapa? Obyek manusia yang diagungkan dalam konsep humanisme universal adalah tidak dapat diterima secara real, karena sejatinya dalam kehidupan kemasyarakatan kita dapati kondisi ketimpangan secara struktural yang membuat polarisasi di tengah-tengah manusia. Dengan menolak humanisme universal, seorang penyair tidak bersepakat dengan segolongan kaum yang dengan kesewenang-wenangannya yang merusak sumberdaya alam dan kehidupan manusia, eksploitasi dan pengejaran untung. Realis proletariat akan memotret kehidupan manusia pabrik dalam perjuangannya membebaskan diri dari penghisapan kerja yang ia alami, atau kaum tani penggarap yang harus menaham batas susbsisten akibat penghisapan kerja oleh para petani pemilik. Kondisi inilah yang nyata dan benar, dan kita haruslah insyaf tidak ada humanisme universal, kecuali dogma penipuan yang dipelihara oleh golongan yang merasa telah aman dan mapan.

Perkembangan selanjutnya adalah bangkitnya sastra dengan bumbu-bumbu moral atau religi.  Sastra Islami kita seperti novel Ayat-ayat Cinta, Kupinang Kau dengan Hamdalah; setali dua uang dengan apa yang dilakukan kaum pengusung humanisme universal, tidak berasal dari bumi manusia yang real. Bagaimana ceritanya moralitas dalam agama atau rasa belas kasih dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan komunitas secara lebih adil? Apakah dengan cinta, ketulusan dan kesalehan seorang penganggur lantas terlepas dari kenyataan mendesaknya kebutuhan si calon isteri untuk membeli makan, minum, baju, beranak, dll, sementara ia sendiri tak jelas memiliki penghasilan? Efek terjauh dari kelihaian penulis novel atau sastra religius hanyalah menghibur manusia yang sudah demikian nyata nestapa, terpetak-petak dalam posisi yang beragam itu semakin jatuh dalam lembah ketidaksadaran.

Akhirnya, pada suatu waktu aku ingin menuliskan sebuah karya yang kukorek dari bilik-bilik kos-kosan para pekerja pabrik garmen di kota ini. Dan menurutku, sumbangan karya seperti itu adalah awal yang baik mendarmabaktikan pikiran demi sosialisme proletariat yang secara nyata kita dapati semakin berkembang, terdesak dan terhisap. Sebuah karya sastra yang dirasuki ruh realis proletariat, yang tidak humanis universal dan sekedar mengundang banalitas hasrat pembaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s