Puisi Klasik (Puisi Wanita)

Posted: Maret 5, 2013 in Klasik Indonesia
Tag:

S. Rukiah

POHON SUNYI

Engkau sudah tua
akarmu rapuh dengan tanah berpegangan
sebagian sudah lepas
putus berpisahan
dan pasir sebutir demi sebutir
ngeri ia berjatuhan!

Batu-batu
dekatmu diam membisu
daun kering mulai bercerai pergi
dan jatuh di sungai
tenggelam di arus mati.

Akar itu satu-satu
daun setangkai-setangkai
putus semua
dan gugur ke dasar mencari
hidup semula
tinggal pohon yang rapuh
memandang jurang
sunyi menanti.

Kapan lagi engkau ini
mesti pergi
dan apa yang akan datang

Dari Pujangga Baru
No: 10-11, Tahun ke IX, April-Mei 1948
S. Rukiah
SATU BUNGA

Musim bunga tiada lagi
daun-daun sudah kering
dan ranting
bergeletakan merindu hujan di pagi hari.

Musim bunga tiada lagi
tapi di tanganku masih ada
satu bunga berwarna dua:
“merah nyala
dan putih semurni kasih”

Bunga lain sudah gugur
bagai mayat pergi ke kubur
tinggal bungaku yang terlepas dari akar
nantikan hujan sebelum warna menjerit pudar.

Tapi seperti manusia
yang tak mau meninggalkan hari
ini bunga yang satu tak mau mati
dan aku pun hilang warna
bila bunga ini mati.

Di musim panas sebengis ini
masih menggeletar di tanganku
satu bunga berwarna dua:

Lindungi ia
dari jajahan matahari.

Dari buku Tandus
Balai Pustaka, Jakarta 1952
Walujati

TELAGA REMAJA

Kuning bercahya keemasan
Telaga remajaku tampak terbentang:
Jernih tenang, seraya memandang
Gadis rupawan pelahan datang …

Riang senang memandikan diri
Berbuihlah air dimainkan jari,
Rambut terurai dan bunga berseri
Jatuh dari sanggul, turutlah menari.

Penuh berombak kini telaga
Airku bersih hitam tercampur
Karena permainan gadis jelita.
Kalau sang gadis ‘lah pulang lagi
Air pun tenang tiada berlumpur
Segala yang goncang ‘lah reda kembali …

Tetapi,
Meski begini,

Melihat gadis pelahan pergi
Pinggang gemulai hilang menari,
Ingin ku teriak, memcahkan sunyi.
“Bila kau datang bermain lagi?”
Dari Pantja Raja
No. 1, Th. II, 1946
Isma Sawitri
LANGIT CERAH
karena diri lelah terlalu lelah
terdiamblah hati oleh kelaparan mimpi manusia
kelaparan yang tiada ujungnya

sehabis-habis mengenang tapi masih mengenang
di sini terserah nasibnya hati yang pada semua
terpandang langit biasa cerah permainan hidup yang ramah

orang-orang tak acuh berpapasan
ramai nian bincang gadis-gadis kesayangan
ah terlalu banyak yang hendak diucapkan
Dari majalah Konfrontasi
No. 29 Maret – April 1959
Isma Sawitri
UBUD
yang emas adalah padi
yang hijau adlah padi
yang bernas sesungguhnya padi
yang bergurau kiranya padi
inilah kebenaran pertama sebelum yang lain-lain
karena laparlah yang pertama sebelum lain lain
sebelum berdirinya pura
sebelum tersusun doa
sebelum raja-raja bertahta
Dewi Sri membenihkannya di atas bumi
di sinilah tempatnya ke mana ia harus datang
di sinilah manusianya kepada siapa ia harus datang
setiap musim berganti setiap musim beralih
Dewi Sri tetaplah pelindung pengasih
bagi mereka yang tabah dan tahu terimakasih
yang emas adalah padi
Dewi Sri membenihkannya di atas bumi
sepanjang usia bumi
sepanjang hidup khayali
yang bernas sesungguhnya padi
Dewi Sri adalah warisan abadi
maka tercipta dongeng atas kenyataan
tercipta keyakinan pada kehidupan
1962
Dari majalah Sastra
No. I, Th, IV, 1964
_________
Disalin dari buku, “Seserpih Pinang Sepucuk Sirih”, Pustaka Jaya cet. 1 th. 1979.
dengan akar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s