Puisi Klasik Indonesia

Posted: Januari 27, 2013 in Klasik Indonesia, Sastra
Tag:, ,

Taufiq Ismail (Lahir 1937) dalam salinan ini termuat dua sajaknya “Perang Badar dan Sehabisnya” dan “Formulir Ini”.

Perang Badar dan Sehabisnya
Pedang telah diletakkan
Pertempuran pertama
Malam turun
Panglima itu merenung
Dalam kemah
Medan yang terlewat
Dalam gugusan
Peristiwa
Topan mengobar debu
Pasukan berkuda
Bukit peperangan
Dan langit menghitam
Angin mengobar
debu
Dalam kerucut langsing
Batu-batu!
Bukit
Langit______
Dada daun baja
Telaga turun
Di tengah gurun
Di tengah gurun
Panglima itu menaikkan
Kedua belah tangannya ke angkasa
‘Dari peperangan kecil ini
di Badar
Kita masuk ke dalam
Perang lebih besar
1965

FORMULIR INI

Siapakah dirimu? Sebuah nomor
Sederet huruf resmi
Dalam abjad Latin
Dari loket di ujung antri yang panjang
Engkau bergegas ke luar gedung ini …
Di luar telah menanti matahari
Suara dan undang-undang
Sebelum ke luar, mereka di pintu akan
Memebekalimu dengan kertas-kertas
Putih. Dan ransel bahu
Terlampau gegas kau telah keluar gedung ini
Di luar telah menanti padang
Garis-garis
Garis angin    Garis badai
Garis suara
Garis lurus khayali di ujungnya sebutir
Logam. Siapakah diriku?
Sebuah anti proses
Sebuah tangan yang teracung
“Berhenti!”
Capung yang gelisah
Srigunting menukik resah
Gelatik-gelatik lalu bernyanyi
Di pohon-pohon kecil di sawah
Di atas tanggul sejarah
Di luar sungai mengalir
Dalam garis-garis
Garis ilmu bumi        Garis tegak lurus
Garis granit.
1965

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s