Membaca Eksistensialisme Sartre

Posted: Desember 2, 2012 in Philosophy
Tag:, , ,

Membaca Sartre berarti menjadi manusia yang mampu melihat liyan sebagai manusia yang mengkonstruk keberadaan kita,L’existentialisme est un humanisme” katanya, yang berarti menjadi eksistensi berarti kembali kepada harkat kemanusiaan. Corak pemikiran Sartre sangat dipengaruhi berbagai peristiwa tragis yang membuatnya berjuang menggali eksistensi dan keberadaan manusia agar tidak lagi dipandang remeh.

Sartre hidup di masa peristiwa kemanusiaan dan degradasi romantisme. Filsalatnya sangat terpengaruh peristiwa, kecamuk perang dunia II dan bangkitnya Fasisme. Inilah yang menjadi latar dimana seharusnya pemikirannya didudukkan. Adapun beberapa pemikiran Sartre sbanyak dipengaruhi oleh Heiddeger dan Husserl. Husserl sang fenomenolog adalah kawannya mula-mula, Husserl mencerap gejala-gejala sebagai sesuatu yang kudus, namun tidak berlaku bagi Sartre sebab menurutnya justru eksistensi mendahului esensi.

Picture Link Source: http://chrismaddencartoons.files.wordpress.com

Dalam bukunya, ” Being and Nothingness” kita tangkap maksud Sartre tentang bagaimana kebebasan itu. Sartre melihat kebebasan sebagai daya upaya yang dibentuk dari dialektika diri, persepsi. Ia membedakan apa yang ada dalam dirinya in it self dan apa yang di luar diri out of selt. Kebebasan harus dimaknai sebagai determinasi orang lain dan lingkungan yang akhirnya ditemukan maknanya saat manusia menggunakan pilihan. Ia mengumpamakan ini, “Seorang pemabuk tentu saja dekat dengan depresi berkebalikan dengan Businesman”. Meskipun terdeterminasi oleh orang lain yang menjadikan obyek atas diri kita, namun sebaliknya kebebasan kita juga menjadikan liyan sebagai obyek, disinilah justru yang sosial dipandang Sartre, justru berpeluang menjadikan ladang konflik. Sartre juga melihat inisiatif-inisiatif dan ide itu muncul dari peristiwa aksi dan reaksi, ia membagi kesadaran ini kedalam 3 tipologi.

Dalam daya upayanya menjawab pertanyaan eksistensial ada dan mengada, Sartre melihat hidup sebagai tragedi yang tragis sebab apa yang kita percayai ternyata ditemukan nihil/ tidak ada! Lantas, apakah maknanya eksistensi? Makna eksistensi diri manusia menurutnya harus digali terus atas diri dan hidupnya demi nilai-nilai yang hanya Ia pakai sekali dalam kehidupannya. Kemudian kita teruskan maknanya ini dengan kematian sebagai tujuan dan tempat terakhir.

Kehidupan ini dari kacamata eksistensialisme Sartre, sekali lagi adalah tragedy. Titik yang kuat dalam filsafat eksistensialisme Nietszchean atau masih tercium aromanya dalam JP Sartre ialah ajaran ber-atheis. Sartre menempatkan manusialah awal dan akhir semuanya. Nasib religion? Ditemukan sebagai tak ada, sehingga moral yang seharusnya sudah ‘dijagakke’/ mapan perlu dicari ulang melalui penilaian kita pribadi/ subyektif. [AB]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s