Puisi Klasik

Posted: Juni 14, 2012 in Tak Berkategori
Tag:, , , ,

Gadis Peminta-Minta

oleh Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

 

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok

Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan

Gembira dari kemayaan riang

 

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral

Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal

Jiwa begitu murni, terlalu murni

Untuk bisa membagi dukaku

 

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil

Bulan di atas itu, tak ada yang punya

Dan kotaku, ah kotaku

Hidupnya tak lagi punya tanda.

 

KEPADA SI MISKIN

I

Terasa aneh dan aneh

Sepasang-sepasang mata memandangku

Menimpakan dosa

Terus terderitakanlah pandang begini?

 

Rumah-rumah terlalu rendah

Dan tanganku hanya bisa menggapai

Di antara ruang tak berudara

Di mana keluh mengapung-apung

 

Takut mengguratkan fajar yang salah

Dan perjalanan masih jauh

Tapi antara kami

Tak ada yang memisahkan lagi

 

II

Saudara-saudaraku, seibu sebapa

Kita orang-orang tersisih

Terluput dari takdir dan jalan besar

 

Barangkali kubur-kubur bagi kami telah menganga

Tetapi apa kubur bagi kita

Kita terkubur, sebelum sempat berkata

Kepada Pemimpin

 

Barangkali jiwa kita jiwa kembara

Menobatkan diri dari taburan bunga

Saling menekankan hati kita

Saling menjabat tangan kita, karena kita sesaudara

 

IBUKOTA SENJA

Penghidupan sehari-hari kehidupan sehari-hari

Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi

Di sungai kesayangan, O, kota kekasih

Klakson oto dan lonceng trem saing menyaingi

Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan

 

Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja

Mengurai dan layang-layang membara di langit barat daya

O, kota kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

 

Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia

Sumber-sumber yang murni terpendam

Senantiasa diselaputi bumi keabuan

Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas

Menunggu waktu mengangkut maut

 

Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana

Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan

Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari

Serta di keabadian mimpi-mimpi manusia

 

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran

Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari

Antara kuli-kuli yang kembali

Dan perempuan mendaki sungai kesayangan

 

Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa

Di bawah bayangan samar istana kejang

Layung-layung senja melambung hilang

Dalam hitam malam menjulur tergesa

 

Sumber-sumber murni menetap terpendam

Senantiasa diselaputi bumi keabuan

Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas

O, kota kekasih setelah senja

Kota kediamanku, kota kerinduanku

 

(Disalin dari buku H. B. Jassin; Kasusasteraan Indonesia dalam Kritik dan Esei III, Gramedia, Jakarta).

Komentar
  1. mulyani mengatakan:

    seperti angin berhembus tanpa bekas di antar serpihan debu yang kian menghilang dalam dasarnya bumi … aku diculik seperti peminta yang mengkuliti jiwanya sangat mati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s