Demi Rumah Masa Depan

Posted: April 8, 2012 in Tak Berkategori
Tag:, , , ,

Jurnal PRISMA
No. 5, 1986 Tahun XV
Topik Kita
Oleh Dawam Raharjo,
Gagasan pokoknya, tak ayal lagi berasal dari Keynes. Ia telah memberi ilham kepada negarawan, pemerintah dan tentu saja lewat para teknokrat, dalam menghadapi masalah depresi dan pengangguran. Pemikirannya telah menjadikan peranan pemerintah tak terelakkan dalam perekonomian pasar modern. Pada mulanya hanya para teknokrat dalam pemerintahan yang terutama percaya kepadanya. Kinipun masih begitu di negara semacam AS yang perekonomiannya dikuasai oleh kekuatan bisnis besar. Tapi kini, kaum swasta pun, termasuk di Indonesia sudah ikut menganut jalan pikirannya. Mereka menginginkan pemerintah tampil pada masa resesi dewasa ini.

Sumber gambar: http://koranbaru.com/wp-content/uploads/2011/04/1368_1846154620X310.JPG
Ketika Singapura merasakan akibat resesi perekonomian dunia pada tahun 1982, Lee Kuan Yew menampilkan peranan pemerintah. Itu tidak mengherankan, karena sudah demikian tradisinya di negara itu. Yang menarik adalah, bahwa Lee ingin memberi nafas hidup lagi kepada perekonomian yang lesu dengan menggalakkan sektor konstruksi, terutama dalam pembangunan perumahan dan gedung-gedung. Pada masa Roosevelt, di AS, dalam 1930-an, yang dibangun adalah pra-sarana. Kini, perumahan dan kantor-kantor yang muncul. Sebenarnya, di Indonesia hal yang sama telah terjadi. Peranan sektor konstruksi, dalam arti yang luas, tidak saja menjadi komponen pertumbuhan ekonomi sejak Orde baru, melainkan juga sebagai pencipta lapangan kerja di desa dan kota, meningkatkan pendapatan lapisan bawah dan meluaskan pasar, lewat peningkatan daya beli. Kegiatan konstruksi telah terkait erat dengan program pemerataan. Dari sisi lain, sektor konstruksi juga berkait dengan program pemenuhan kebutuhan pokok.
Dapatkah, sektor konstruksi dan perumahan, yang sudah melekat citranya pada program pemerataan dan pemenuhan kebutuhan pokok itu, mengandung peranan yang lebih berarti dalam perspektif pertumbuhan ekonomi? Data statistik tampaknya harus lebih banyak dibongkar guna lebih banyak bisa memberi petunjuk. Pertumbuhan sektor konstruksi dan sumbangannya terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) telah banyak diketahui. Tapi bagaimana pengaruhnya terhadap industri yang berkaitan dengan kebutuhan perumahan? Yang sudah lebih jelas adalah, bahwa dalam pola konsumsi berbagai golongan pendapatan di Indonesia, kebutuhan dan pembelanjaan untuk perumahan menduduki tempat kedua terpenting sesudah pangan. Makin tinggi tingkat pendapatan, makin besar kebutuhan dan pembelanjaan masyarakat untuk perumahan.
Di RRC ada cerita yang cukup menarik. Sejak 5-6 tahun terakhir ini, terutama sejak tahun 1982, pembangunan kota Beijing meningkat luar biasa, seperti tampak pada timbulnya gedung-gedung bertingkat. Kampung-kampung dibongkar, diganti dengan rumah-rumah susun. Pembangunan perumahan terjadi di pedesaan. Pemerintah Cina malah berani meminjam uang dari luar negeri dan bank Dunia untuk membangun perumahan. Dampaknya, industri bahan-bahan bangunan tumbuh pesat, baik dalam skala besar maupun dalam skala kecil dan menengah. Tidak saja produksi semen meningkat, tetapi juga bahan-bahan seperti lembaran kaca, granit, mika, peralatan rumah hingga bahan-bahan dekorasi arsitektur. Modernisasi mesin-mesin untuk industri bangunan juga terkait. Untuk itu RRC berani mengimpor teknologi canggih, tapi dengan harapan bisa pula mengeskpor bahan-bahan bangunan. Untuk membangun industri perumahan, RRC telah memberanikan diri bekerjasama dengan Italia, Jerman Barat, Inggris, AS dan Jepang.
Membangun rumah dan perumahan tentu membutuhkan biaya dan modal besar. Tapi di sini justru timbul akal untuk mobilisasi dana. Tidak saja pemerintah di dorong untuk menyediakan dana dan modal dengan motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan atau menciptakan citra keadilan sosial, tetapi masyarakat juga menganggap penting untuk menyediakan bagan pendapatannya, demi rumah, lambang masa depannya. Dan mereka bersedia menabung, dalam bentuk apa pun termasuk asuransi. Kalau dulu Keynes melihat hambatan pertumbuhan ekonomi karena orang lebih banyak menabung ketimbang membelanjakannya, kini dalam program perumahan modern, pembelanjaan terjadi dulu, baru kemudian menabung untuk masa depan. Dengan cara itu, program perumahan mendorong pertumbuhan ekonomi.
M. Dawam Rahardjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s