Gambaran Petani Rasional: dari Pertemuan Kelompok Tani Walisongo Dusun Gedad, Desa Ketapang

Posted: Maret 8, 2012 in Tak Berkategori
Tag:, , , , , , , ,

Dusun Gedad sebuah dusun kecil di desa Ketapang,kecamatan Susukan, termasuk kawasan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dusun Gedad merupakan dusun agraris dimana mayoritas warga bekerja sebagai petani, baik itu petani pemilik maupun penggarap. Secara demografis dusun ini sangat kecil, keseluruhan pemukim hanya berjumlah tidak sampai 300 orang saja. Dari segi pendidikan bisa dibilang sangat rendah,  terbukti tidak ada satupun warga yang mengenyam bangku sarjana. Rata-rata dari anak petani bersekolah sampai setingkat bangku sekolah menengah (SMA dan SMK) saja.
Dari dusun ini semua bermula, dari satu dua orang termaju sebagai inisiator kelompok tani di desa Gedad mulai dirintis. Ahmadi, Mustofa, Rohman, dan pak Thoyib merupakan nama-nama orang yang berpengaruh dalam pengembangan pertanian Gedad. Beberapa waktu lalu penulis atas undangan pengurus diundang untuk ikut berkumpul, kesempatan ini sekaligus dimanfaatkan untuk melihat bagaimana pengorganisasian petani disana.
Ketertarikan melihat jalannya pengorganisasian dan bagaimana respons petani dalam rapat tersebut membuat penulis melakukan studi mendalam di tempat tersebut. Melihat Gedad sebagai potret kecil bagi keseluruhan petani dengan kondisi-kondisi yang menjadi faktor pembentuk, semoga solusi ilmiah dapat menjadi rekomendasi perbaikan-perbaikan bagi pengelolaan petani bersama.

Perspektif Petani
Teori bukan berasal dari menara gading, teori datang dari kenyataan yang kemudian, diidentifikasi, diklasifikasikan, dan kemudian digeneralisasi menjadi hukum-hukum. Dan sebagai hukum yang pernah teruji, perangkat teori kiranya akan membantu bagi penyederhanaan realitas, tanpa menghilangkan sisi-sisi kenyataan dan fakta obyektif. Dari fakta dan data-data obyektif yang dibantu dengan pisau teori yang tajam dengan alur seperti itulah, gambaran petani dapat diungkapkan dengan baik.
Mengulas kembali tentang beberapa teori yang pernah mengemuka sebagai analisa gerakan petani, baik yang dilakukan oleh Indonesianis ataupun peneliti kita sendiri. Studi-studi tentang petani dan gerakannya, menghasilkan beberapa orang tersohor dalam gerakan. Sartono Kartodirjo, menghubungkan gerakan petani dengan faktor milenarisme yang bercorak elitis, sementara itu Popkin melihat gerakan petani secara psikologis rational dengan pemaksimalan untung-rugi sehingga kelompok dapat dipilah menjadi individu-individu kecil. Dua kacamata perspektif gerakan ini dicoba dilakukan penggabungan untuk menjelaskan keadaan riil dalam pengorganisasian.
Skup kajian tulisan ini mencakup satu kelompok kecil petani dengan budaya agraris. Meskipun agraris dalam situasi kekinian telah masuk unsur-unsur modern yang mulai merasuk di kalangan petani. Penggunaan laptop, hand phone, kamera digital dan banyaknya kendaraan roda dua merupakan indikasi telah masuknya pengaruh modrnitas dalam kalangan petani gedad. Dari skup kebudayaan, petani bisa dibilang sudah berada dalam transisi budaya antara modern dan tradisional.
Teori yang tepat harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan. Tidak bisa sebaliknya, sebab realitas itu mendahului terjadinya teori-teori, sehingga penyajian teori di sini lebih menjadi peta pengarah penelitian atau merupakan alat penyederhanaan yang tidak bersifat absolute / mutlak benar adanya.

Kembali ke Dusun Gedad
Dari dusun ini, potret petani dan realitasnya berusaha digambarkan. Dari satu dua kali pertemuan kelompok, gambaran secara general berusaha ditafsirkan.
Organisasi petani Walisongo termasuk bagian dari Paguyuban Petani Al-Barokah desa Ketapang. Dalam kelompok tani ini terkumpul sejumlah 22 orang petani yang kebanyakan adalah pria, ya petani  perempuan sering tidak diakui sebagai petani, karena budaya di sini masih menganggap perempuan sebagai pelengkap penderita laki-laki.
Pertemuan kelompok diselenggarakan hari itu, hari di mana rapat membahas tentang bagaimana dana-dan uang untuk kelompok yang berasal dari pinjaman pemerintah akan diturunkan. Dalam rapat yang berjalan penuh dengan angka-angka itu, petani nampak sekali sangat rasional. Mengingatkanku pada bagaimana teori rational choice yang dikemukakan oleh Samuel Popkin berpuluh tahun yang lalu, yang menganggap petani itu rasional.
Uang telah merasuk dalam kelompok, semisal kang Sarman seorang petani yang sangat bersemangat sekali dan polos menyatakan kebutuhannya akan uang. Tak pelak tradisi uang dikelompok ini sudah sangat kental, bagaimana para petani mengharapkan bantuan-bantuan kelompok untuk membantu keuangannya secara pribadi, tanpa tendensi timbal balik.
Mengikuti rapat hari itu, merefleksikan bagaimana keadaan petani hari ini. Bagaimana keadaan kelompok yang gagal menjadi basic agent untuk menuju perubahan petani menjadi lebih baik. Bagaimana mungkin mereka membahas masalah-masalah lain, kalau kebutuhan mendasar di kelompok mereka adalah uang dan keuntungan individual. Dalam keutuhan organisasi dan kelompok Walisongo, terdapat repihan-repihan individualitas yang mengemuka dari satu petani ke petani yang lain.
Sebagai penyelenggara acara adalah Kang Rohman, seorang bekas kader paguyuban yang berhasil menjalin kerjasama dengan IAKW, sekolah pertanian organik yang berhasil ia kelola beberapa waktu lalu. Kang Rohman seorang yang meskipun punya keinginan membuat organisasi tani yang kuat namun lemah di dalam pengorganisasian. Ia hanya memberikan amplop-amplop kepada para petani tanpa mengikat mereka dalam organisasi secara permanen.

Pentingnya Indoktrinasi Ideologis
Dalam kondisi petani yang serba terbatas menghasilkan petani yang oportunis dan rasional. Keadaan kemiskinan dan keterbatasan membuat beberapa petani jatuh kepada rasionalitas indivdiual yang berpotensi menjadikan gerakan menjadi terdekonsolidasi dan terpecah-pecah melemah. Dari jalannya rapat dapat disimpulkan, bahwa faktor uang menjadi faktor pemicu dan terlibatnya petani dalam gerakan perkumpulan ini. Sementara tentang masa depan organisasi yang meskipun bertujuan jangka panjang penyejahteraan petani, rasa-rasanya terkesan utopis karena telah termindset dalam benak petani yang terlibat bahwa keuntungan jangka pendek dan uang menjadi satu-satunya alasan kenapa mereka terlibat dalam gerakan /perkumpulan kelompok ini.
Pertanian organik padi organik bukan pertanian yang populer, apalagi ditengah kebijakan agraria yang dianut pemerintahan masih bersifat liberal. Yang perlu dilakukan adalah melampaui uang dan melampaui kebutuhan-kebutuhan individual, pertanian organik dengan visi kolektif yang menginginkan kesatuand an peyadaran petani bahwa mereka selama ini telah terjerembab dalam logika apsar yang menguntungkan para pemilik modal. Dari sinilah pemahaman lebih jauh harus ditancapkan dalam benak-benak tiap-tiap anggota kelompok petani walisongo.

Kontak PP Al-Barokah
0298615322 (office/ kantor)
nnnady@gmail.com

Komentar
  1. okey justin mengatakan:

    Bisa tolong aku tentang judul analisis pengembangan organisasi pertanian di kabupaten NTT

    • Paguyuban Petani Al-Barokah mengatakan:

      Hi Justin, petani rasional disini yang saya maksud adalah efek dari merasuknya modernitas ke pedesaan. Bahwa pada hari-hari ini telah berlangsung benturan budaya yang merubah bentuk dari adat kolektif dan gotong royong petani dulu, berubah kini menjadi individualis dan rasional instrumental karena pengaruh modernitas terutama yang bersandarkan uang.
      Ya, saya akan bantu asal kau coba berikan aku pemaparan tentang apa yang akan kau selidiki dan teliti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s