Gunung Kemukus (Anthropologi Interpretatif)

Posted: Maret 1, 2012 in CATATAN-CATATAN, CERITA
Tag:, , , , ,

Saat hasrat berpacu dengan yang ritual, dua kemungkinan bisa dipahami melalui interpretasi/penafsiran. Bagaimana si aktor menempatkan diri. Yang berritual melihat ini sebagai bagian tradisi mencapai tujuan (pesugihan), sementara itu bagi para businessman dan pedagang melihat ini sebagai obyek bisnis/komoditas.  Kemukus menjadi fenomena kecil dari budaya multi tafsir ini. Saya menelusuri ke lokasi menyampaikan laporan kecil bagaimana budaya Kemukus dari dekat.

Deskripsi Lokasi

Gunung Kemukus berlokasi di daerah Sragen, terletak di daerah dataran rendah, nama Gunung Kemukus sejatinya lebih merupakan istilah sebutan yang tidak memiliki relevansi apapun terkecuali hanya sebuah bukit kecil. Menjangkau lokasi gunung Kemukus dapat dijangkau melalui dua jalur; jalur darat &  jalur kapal kecil (gethek [Jw.]).

Jika anda menempuh jalur darat, anda harus memilih jalur memutar dengan melalui lereng-lereng kecil yang cukup jauh dari jalan raya setelah Gemolong. Namun, jika anda memutuskan untuk menggunakan perahu, anda dapat masuk tak begitu jauh dari jalur jalur alternatif antara Raya Sragen-Salatiga, dan motor/ mobil dapat diparkir di sekitar lokasi penyeberangan gethek.

Karcis dan berbagai pungutan liar saya rasa sangat mengganggu setelah dua kali melakukan kunjungan ke tempat ini. Baik melalui jalur air atau darat. Entah itu resmi (dinas pariwisata) maupun secara sukarela (warga), namun pungutan yang berulangkali itu -baik parkir atau masuk & meninggalkan lokasi sangat terasa mengganggu (sekitar Rp. 5.000/ karcis sebanyak 3 kali) belum dihitung parkir.

Sebagai pengunjung yang telah membandingkan dua jalur (darat & air). Masing-masing jalur memiliki perbedaan yang relatif, kalau anda berniat kesana untuk melakukan wisata religi atau beritual, saya sarankan untuk memilih jalur air, kenapa? Sebab nuansa ziarah itu akan anda rasakan lebih hidmat. Saat datang pada malam hari apa lagi, saya merasakan seperti melakukan perpindahan/ transisi dunia dari kebiasaan menuju tempat lain yang sunyi. Tampak dari tempat penyeberangan untuk pertamakalinya, Gunung Kemukus bagii anda akan menghadirkan nuansa mitis yang kental. Saat anda naik gethek dan melihat lampu yang berkilau mengitari bukit kecil Kemukus, anda akan bersensasi seperti melihat dunia lain yang dipenuhi misteri-misteri.

 

 

 

 

 

 

Perjalanan berlanjut setelah pembayaran loket dan menunggu di dek kapal kecil itu penuh. Seorang pengemudi yang sekaligus bertugas menjadi kondektur mengatur tempat duduk penumpang. Dan setelah penuh, ia mendorong kapal kecil itu ke arah air, dan dengan tangkasnya ia naik bersama penumpang ke dek kapal untuk menarik pengungkit mesin agar menyala. “Jreeng, tho, thok, thok ….”, dan suara mesin yang menyala itu membawa penumpang berpindah dari dermaga (pelabuhan kecil), menuju ke Lokasi Wisata Gunung Kemukus. Dan biasanya, belum sampai di darat, pengemudi telah mematikan mesin, dan suara penumpang yang riuh dengan canda ramai di atas dek kapal kecil itu, turut tersapu dengan suara mesin yang mati. Sunyi-senyap, suasana itu yang kini terasa membawa pengunjung/ peziarah.

Setelah mendekat ke lokasi Gunung Kemukus, kapal yang hendak mendarat telah ditunggu oleh seseorang yang bertugas sebagai Hansip dan polisi laut (dinas perairan mungkin). Saat kapal benar-benar telah menyentuh bibir lokasi pendaratan menginjak tanah Kemukus, penumpang berdiri berjejer untuk menunggu kapal secara antre. Perasaan saat pendaratan itu, meski hanya sebentar namun begitu berkesan. Seperti telah mengalami sebuah perpindahan tempat yang misterius. Namun sayang sekali, lagi-lagi karcis masuk ke lokasi wisata telah menunggu, lengkap dengan preman-preman dan penjaga keamanan yang bersiap menjaga kalau ada yang lepas dari pembayaran.

Memasuki tempat kelaur dari loket masuk, pengunjung bebas memilih sesuai dengan minat dan bakatnya. Kemukus memiliki sebuah kuburan besar sebagai puncak lokasi Pekuburan Pangeran Samudro dan Sendang Tirto sebagai lokasi penyucian. Dua lokasi ini barangkali cukup merepresentasikan sebagai wisata ritual. Namun Kemukus tidak berhenti disini, keterbukaan lokasi Kemukus menjadikan ritual itu semakin meriah. Di lokasi sekitar makam, warung-warung kecil dan emplek-emplek malu-malu berdiri. Beberapa tempat karaoke juga menjamur berterbaran pada warung makan, dan kamar-kamar mesum. Bagi peziarah, lokasi makam Pangeran Samudro yang terletak di puncak atau sendang Tirto barangkali menjadi lokasi tujuan. Namun bagi yang tidak tegas niatnya, diluar lokasi itu terdapat berbagai hiburan, pijat tradisional, tontonan dan permainan sulap, pertunjukan pengamen, dan joged  karaoke.

Satu hal yang pasti bila kita datang ke lokasi pemakaman atau pemandian kecil, aroma kemenyan yang kental akan segera menusuk dan tak jarang membuat kita mual. Baju anda seseteril apapun saya jamin akan menempel aroma kemenyan. Disana-sini bunga-bunga dan kemenyan seperti menjadi bau yang biasa dicium.

Di luar kemenyan yang barangkali akan mengganggu hidung itu adalah banyaknya sampah dan banyaknya rumah emplek-emplek yang menimbulkan kesan kotor dan lusuh. Belum banyaknya pramuria yang mangkal disana-sini -baik di sekitar makam atau di jalan-jalan di lokasi makam. Tentu saja akan menjadi pemandangan yang buruk dan kurang nikmat. Saya merasakan selera makan atau minum yang habis saat menyaksikan suasana tersebut.

Meneropong Budaya Kemukus dalam Perspektif Modernitas

Kemukus adalah gunung dengan komunitas dua dunia. Pertama, menjadi lokasi yang sakral dan mitis karena kepercayaan sebagai lokasi penyucian diri dan pesugihan. Kedua,Kemukus berwajah bopeng yang tak ada bedanya dengan lokalisasi sekelas Dolly atau Kramat Tunggak, atau Sunan Kuning.

Dari pengamatan di lokasi, masa depan dan eksistensi Gunung Kemukus dalam prediksi saya  akan mengalami dilema dan hidup dalam ketidakjelasan antara religi dan sex business. Barangkali, pemerintah harus lebih tanggap memikirkan upgrade sumberdaya manusia dan berbagai fasilitas yang mendukung perkembangan lokasi wisata ini agar konsumen yang banyak, tidak mengalami kesimpangsiuran tujuan dalam datang ke lokasi. Jalan Ziarah, menurut saya harus lebih di dorong di depan, meskipun seks tidak bisa pula ditutupi sebagai bumbu khas wisata ziarah di Kemukus.

Bayangkan dengan permasalahan tarikan, dan pagu-pagu yang tak jelas tersebut tentu saja sangat mengecewakan para pengunjung. Belum lagi melihat kondisi dan lokasi yang terkesan kumuh, kotor dan lusuh karena sampah, atau ketertiban pramuria yang tidak teratur, tentu saja membuat pengunjung risih dan terkesan sangat jorok.

Melihat kondisi ini, sejumlah upaya harus dilakukan untuk menjadikan Kemukus sebagai obyek yang menarik. Diantaranya adalah adanya perbaikan transportasi, pelayanan pengunjung, dan penertiban rumah dan balai-balai, makam dll. yang melibatkan baik pemerintah dan masyarakat.

Barngkali meskipun yang santer berkembang yang menyebutkan, “Wisata Kemukus adalah wisata pesugihan”, namun kalau dilihat lebih dalam Kemukus menyimpan sebuah keunikan sebagai obyek wisata. Selain melakukan persenggamaan, dan penyucian diri, wisata Kemukus dapat menjadi pelarian dan simbol dua kehidupan manusia secara umum. Sebuah petualangan wisata yang mengajak para pengunjung tidak sekedar mencari hiburan, namun lebih jauh menantang setiap pengunjung untuk melakukan refleksi dan anjuran pengontrolan nafsu-nafsu material yang cenderung menyebabkan individualitas menjadi raja, didestruksi menjadi lebih altuistik dan tenang.

AB

Anggota Salatiga Circle

Mail: nnnady@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s