Pada Tulisan ini saya mengarsip tulisan Samuel Popkin, seorang pengamat gerakan petani yang penting, yang saya salin dari Jurnal Prisma 9, 1989. Di bawah ini adalah sedikit pengantar dari penerbit (baca Prisma), selanjutnya secara utuh akan saya salinkan tulisan di prisma ini untuk bisa anda download, sejak tulisan ini saya upload, penyalin masih dalam proses pengetikan.

Pengantar

PERDEBATAN Samuel Popkin dan James Scott tentang Petani di Asia Tenggara sudah banyak dibicarakan orang. Popkin dengan bukunya The Rational Peasant mengambil kasus kehidupan petani di Vietnam, sedangkan James Scott dalam bukunya The Moral Economy of The Peasant, banyak membicarakan kasus di Birma. The Rational Peasant banyak disebut orang sebagai anti-dote terhadap karya Scott yang mengambil pendekatan ekonomi moral untuk memahami persoalan-persoalan para petani. Scott menyatakan bahwa petani menganut gaya hidup gotong royong, tolong menolong dan melihat persoalan sebagai persoalan yang koletif. Sikap ini disebabkan karena struktur kehidupan petani yang terjepit, dan harus menyelamatkan diri. Selain itu, para petani juga menganutu asas pemerataan, dengan pengertian membagikan secara sama rata apa yang terdapat di desa, karena mereka percaya pada hak moral para petani untuk dapat hidup secara cukup. Karena itu dikenallah sistem-bagi hasil, selamatan yang dilakukan oleh para petani kaya sebagai tanda membag rezeki dengan komunitas desa. Intensifikasi pertanian, komersialisasi hasil-hasil agraria dianggap sebagai ancaman oleh para petani.

Popkin membantah pendapat ini dengan mengemukkan bahwa yang berperan terhadap perubahan-perubahan di desa bukanlah kolektivitas penghuni desa, melainkan pribadi para petani itu sendiri, Popkin berpendapat bahwa Scott terlalu meromantisir aspek kehidupan gotong royong dan hubungan antara patron-klien. Ia menunjukkan adanya free-riders di desa yaitu orang-orang yang tidak mau bekerja sama tetap menikmati hasil-hasil kerja kolektif itu, dan sistem bagi hasil, menurut Popkon, lebih disebabkan karena keengganan pemilik tanah untuk membiarkan petani menjual hasilnya sendiri ke pasar.

Beberapa waktu yang lalu Samuel Popkin berkunjung ke Jakarta dan membicarakan bukunya di hadapan sekelompok cendekiawan di Jakarta dan tokoh-tokoh LSM.

Hadir dalam diskusi tersebut antara lain Taufik Abdullah, Ong Hok Kam, Ignas Kleden, Dawam Raharjo, Aswab Mahasin, Hans-Dieter Evers, Lance Castles, Ian Chalmers, Vedi Hadiz.

Popkin, dalam diskusi tersebut mengemukakan persetujuannya terhadap Revolusi Hijau. Dalam pandangannya, Revolusi Hijau lebih banyak membawa dapak positif bagi Asia daripada dampak negatif. Ia sama sekali menolak pendapat bahwa Revolusi Hijau menyebabakn petani meninggalkan desa dan menuju kota dan mengakibatkan banyaknya pengangguran di kota serta tumbuhnya kelompok  miskin di kota. Pendapat semacam ini menurutnya dipengaruhi oleh pemikir Eropa yang sudah lama mati seperti Marx dan Tawney. Lebih jauh lagi ia menyatakan bahwa petani adaah orang-orang yang rasional, mereka seperti halya kebanyakan ingin menjadi kaya. Dan kesempatan ini bisa didapatkan seandainya petani pemilik akses yang lebih leluasa terhadap pasar. Karena itu ia mengajukan suatu pemikiran untuk menghapuskan pengelolaaan pemerintah terhadap fasilitas-fasilitas yang menyangkut hidup orang banyak, seperti transportasi, pasar sehingga petani dapat menjual hasil pertaniannya sendiri ke pasar tanpa perantara.

Pendapat bahwa komersialisasi pertanian akan menyebabkan hanya sebagian saja orang menjadi kaya sementara, ditolak oleh Popkin. Komersialisasi pertanian akan memperbaiki harkat hidup orang banyak. Dahulu para pemilik tanah melarang menjual hasilnya ke pasar karena mereka takut petani akan menguasai pasar,dan hilanglah hubungan petani dan kepemilikan tanah.

Popkin percaya bahwa bila fasilitas-fasilitas yang selama ini dikelola oleh pemerintah karena menyangkut hidup orang banyak, dibuat lebih terbuka, maka banyak orang akan mendapatkan manfaatnya. Ia sama sekali tidak menyetujui pendapat bahwa dengan dibiarkannya fasilitas tersebut dikomersialisasikan akan ada   sebagian orang yang akan terus mendapatkan fasilitas dan menjadi kaya  sedangkan sebagian lagi akan terus menerus miskin. Popkin menyatakan bahwa dalam hal ini persoalannya bukanlah jurang antara miskin dan kaya tetapi bagaimana memperbaiki kondisi golongan miskin. Persoalan jurang akan terus menerus ada dalam sistem pemerintahan manapun. Karena itu jauh lebih penting membangun fasilitas-fasilitas yang dapat memperbaiki hajat hidup orang banyak seperti membangun sekolah, membangun rumah sakit membangun jembatan dan lain-lain, daripada memikirkan bagaimana memperkecil jurang diantara kaya dan miskin ataupun mendistribusikan yang lebih banyak kepada semua lapisan masyarakat. Tidak ada suatu sistem sosial politik manapun yang dapat menjamin pemerataan seperti yang dicita-citakan. Sistem demokrasi-liberal sekalipun hanya berhasil mendistribusikan fasilitas-fasilitas secara geografis dan bukannya secara merata ke semua lapisan masyarakat.

Samuel Popkin adalah associate professor pada University of California, San Diego, untuk bidang ilmu politik. Popkin juga pernah bekerja sebagai konsultan untuk kampanye presiden Amerika Serikat.

***

Selengkapnya silahkan Downloads link berikut (0 files).

Komentar
  1. uno mengatakan:

    link downloadnya belum ada ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s