“Wanita dijajah pria, dijadikan perhiasan sangkar madu”, seperti itulah pandangan yang timbul dari budaya kita. Budaya Jawa yang masih patriarkhis. Laki-laki berkuasa dalam urusan luar rumah. Perempuan dikonstruksi lemah dan manja, sebaliknya laki-laki identik dengan ketegasan dan kekuatan. Meskipun kita kenal beberapa raja dan pemimpin perempuan, namun apa daya itu hanya abnormalitas. Harus kita akui patriarkhi sebagai mode relasi kelamin, laki-laki masih superior. Inilah warisan nenek moyang kita, warisan feodalisme yang masih setia kita pegang teguh sampai hari ini.

Kalau memang patriarkhisme yang kita miliki. Lalu kenapa hari ini kita tuntut kesetaraan gender. Apakah pentingnya perempuan memiliki hak, kalau dalam kenyataan ide-ide itu tidak aplicable. Sebaliknya, justru secara logis kita balik saja tentang prasangka feminisme itu, kenapa mencuat. Feminisme sebagai sebuah wacana pertama-tama kita hipotesakan disini sebagai tidak tumbuh dari nuansa kehidupan di Indonesia. Karena menolak kesetaraan gender, dari mana datangnya isu itu? Kita jawab: “ Akarnya feminisme datang dari sebuah kebudayaan asing, barat yang sangat individualis dan menghormati hak-hak individu. Sementara kita yang timbul dari budaya Timur, secara berbeda melihat posisi individu. Seperti sebuah sistem, individu harus dilihat sebagai kolektivitas dan peran. Dan disini, dalam relasi gender, posisi perempuan itu lebih terpinggir daripada laki-laki”.

Dalam satu wacana besar ada banyak perspektif yang timbul. Feminismepun seperti itu, -memiliki repihan-repihan ideologi yang secara berbeda melihat ketimpangan gender. Secara teoritis ada berbagai sekte dan aliran dalam feminisme. Banyak tokoh-tokoh dengan pandangan yang berbeda melihat feminisme, ambil saja beberapa aliran; feminis radikal, feminis sosialis, feminis liberal, bahkan feminis anarkhis. Dalam obyek yang sama melihat posisi perempuan, mereka berbeda menafsirka tentang apa, bagaimana, mengapa, kapan, bagaimana, dimana posisi perempuan yang ditindas oleh lawan jenisnya yaitu laki-laki.

Variabel gender yang lebih luas dan tidak bisa diartikan sebagai jenis kelamin, hanya mungkin dipahami kalau sudah didudukkan pada yang sosial. Laki-laki dan perempuan sebagai hal-hal yang bersifat asali dan kodrati, oleh sebagian feminis dilihat bermasalah karena berpengaruh dalam konstruksi sosial sehari-hari di masyarakat.

Konteks sosial obyektif selalu berbeda dalam melihat perempuan, namun selalu perempuan diposisikan lebih rendah kalau dibandingkan dengan laki-laki. Kultur feodal yang berbasis agraris dan manual, sampai memasuki transisi ke arah modernisme, sampai pada gelombang post-modernisme tidak merubah perlakuan atas sikap otoritatif laki-laki kepada perempuan. Inilah titik singgung yang membuat wacana feminisme senantiasa memperoleh tempat dan relevansinya.

Bagaimana Feminisme Kita?

Masyarakat industrial ditandai oleh mekanisasi dalam pekerjaan, upah dan keluarga sontak mengalami pergeseran. Kalau dalam kultur industrial, laki-laki mengerjakan pekerjaan berat seperti ke sawah, ladang, kultur modernitas tidak memerlukan tenaga manual laki-laki lagi, karena mesin telah menggeser peran kerja otot tersebut. Namun begitu, tidak serta merta perempuan dapat berpartisipasi dalam pekerjaan-pekerjaan industri. Industrialisasi justru, menjjadi juran bagi perempuan terjebak pada dilema-dilema. Sebab feodalisme sebagai sistem yang aus, nilai-nilainya masih dipegang dalam realitas budaya sehari-hari di masyarakat. Disinilah, peran ganda perempuan menumpuk-numpuk. Perempuan dituntut terus di rumah mengurus  keluarga, dalam pada itu, tuntutan ekonomi juga memaksa perempuan mencari tambahan penghasilan dan nafkah. Struktur industrial yang kapitalistik ini, terasa sangat berat dan menjadikan setiap tubuh perempuan sebagai barang yang tidak lagi boleh bermanja dan lembut.

Kartini dalam catatan-catatannya di buku yang ditulis yang berjudul, “Panggil Aku Kartini Saja”, oleh Pramoedya A. T. menggambarkan hal ini dengan tepat. Bukut itu menyimpulkan bahwa Kartini menghadapi tekanan yang sangat dari feodalisme Jawa ini, sementara liberalisme sebagai mindset ideal yang dianut teman-temannya yang hidup dalam kultur Barat sangat ia inginkan untuk berlangsung pada dirinya. Tekanan psikologis yang menjadikan Kartini terjebak secara kejiwaan inilah, yang setidaknya relevan digunakan melihat tubuh-tubuh perempuan di Indonesia hari ini. Saat Industri-industri mulai berdiri, pendidikan yang materialistis dan rasional, namun dalam alam budaya dan struktur pembagian kerja masih feodalis.

Kembali kepada gerakan feminis tadi, untuk melihat resolusi atas situasi ketertindasan perempuan tersebut. Rasa-rasanya feminis Marxist menawarkan solusi yang lebih masuk akal. Alih-alih sekedar menuntut persamaan pandangan dan persepsi secara humanis, Feminis maxis bergerak maju melihat ketertindasan ekonomi sebagai mode yang harus dilawan. Tidak sekedar melihat gender sebagai sesuatu yang asasi, persoalan kelas sosial yang timpang harus diperjuangkan melalui wahana perang kelas/ revolusi. Tidak ada diskriminasi dalam perjuangan kelas, sesama proletar baik laki-laki atau perempuan harus bergerak maju bersama kelas pekerja merebut kuasa dari tangan pemilik faktor produksi yang menghisap manusia dalam kerja.

Feminisme di Indonesia akan relevan dan tidak hanya menjadi kajian-kajian media saja.

Menyelesaikan Feminisme

Perkembangan feminisme di Indonesia lebih banyak wacana daripada praktik. Beberapa aktivis perempuan dan golongan akademis bisa dibilang hanya jalan ditempat. Gerakan kesetaraan gender dan anti-diskriminasi terhadap perempuan hidup dan tumbuh namun dalam ruang vakum alias tidak menemukan ruang pijakan. Meskipun secara obyektif posisi perempuan tertindas dalam posisi subordinat, namun secara subyektif dan sadar gerakan membangun kesetaraan gender tidak berlangsung massif. Apanya yang salah?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s