Sungguh, kita tidak akan kehilangan suatu apapun,

 kecuali rantai-rantai yang selama ini membelenggu kita! (Trotsky)

                Desa Mbakauan nama ini kukenal beberapa bulan yang lalu. Perhatianku tertuju, pada waktu-waktu ini, semenjak pemerintah memutuskan untuk mengesahkan UU yang intinya -anti tembakau. Desa yang dulunya ramai hilir-mudik alat transportasi pengangkut tembakau dan ladang-ladang yang hijau dengan tanaman tembakau, itu kini sepi. Ladang-ladang tembakau kini menjadi lahan-lahan kosong. Kalaupun ada hanya satu dua petak ladang yang masih ditanami sayur-sayuran atau jagung.

Dari dusun inilah cerita itu dimulai. Dari dua orang petani yang gelisah melihat situasi ekonomi yang semakin sulit.

“Kang, dua bulan ini kita menganggur tak kerja”. Ucap Karjo, lirih.

“Akupun Bingung Mar, mau kerja apa sehabis ini.” Tukas Karjo menimpali.

“Rasanya tak kuasa meninggalkan tempat ini untuk kerja di luar desa, kang.”

“Ya, akupun begitu Mar”.

“Kita harus berbuat sesuatu, kang. Kalau terus-menerus pasrah, Kita akan tetap seperti ini. Padahal, kebutuhan sehari-hari kian mendesak Kang”.

“Ya, Mar kita harus memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Menuntut orang-orang pintar disana, yang tak tahu arti tembakau untuk kaum tani kecil seperti kita”.

“Ya, kang ini masalah kita bersama sebagai petani kecil. Dan aku yakin, kesulitan ini tidak kita rasakan sendiri”.

“Marilah, Mar kita ajak sedulur tani yang lain itu bicara. Kita kumpulkan mereka dan mengajak berfikir dan bergerak menuntut keselamatan dan hak-hak kita itu”.

“Ya, kang aku sepakat itu”.

***

Dari diskusi kecil dua orang petani tembakau inilah, pertemuan demi pertemuan berlangsung. Dari satu-dua orang tetangga, jumlah petani yang bergabung terus bertambah. Dari aksi-aksi perkumpulan inilah, cikal bakal gerakan petani di Mbakauan tersusun rapi dan terorganisir. Sampai waktu, organisasi petani tembakau di desa Mbakauan ini, beraliansi dengan berbagai pihak baik organisasi-organisasi Ormas, buruh, LSM dan Mahasiswa.

Sementara itu, Negara dalam situasi goncang, krisis ekonomi yang terjadi di Eropa menyebar ke negara-negara kawasan lain. Seperti menular, krisis itu merasuk ke Asia Tenggara. Beras dan semua komoditas yang biasa dijual murah kini naik tak terkendali. Bahkan di beberapa surat kabar tertulis, telah terjadi kelangkaan barang-barang di beberapa wilayah. Akibat terburuk dari situasi ekonomi yang

menyulitkan rakyat inilah yang menimbulkan teriakan-teriakan perlawanan di berbagai daerah.

Demonstrasi dan aksi-aksi pendudukan oleh rakyat berlangsung dimana-mana. Di depan gedung pemerintah, di hadapan pabrik-pabrik, bahkan di jalan-jalan. Tumpahlah semua rakyat yang merasa perutnya terancam, menuntut negara bertanggung jawab atas ketidak-pecusannya mengurusi masalah perut.

Dari desa Mbakauan, kaum buruh berkumpul untuk menyikapi masalah sehari-hari mereka. Situasi ekonomi yang sulit karena harga tak terkendali semantara tanaman tembakau yang ia tanah dilarang, membuat beberapa petani geram dan marah. Reaksi itu tergambar dalam rapat-rapat,

“Kita salah apa, menanam tembakau tak boleh lagi. Apakah petani tembakau tak boleh punya uang”, Ngadi mencetuskan keprihatinan kehidupannya sewaktu rapat yang di sambut sorak-sorai suara peserta yang segera berubah menjadi kegaduhan.

“Negara ini sudah khianat sama rakyat sehingga bikin kita tambah miskin saja.” celetuk suara peserta yang lain.

Forum rapat tak dapat dikendalikan. Pak lurah segera mengambil inisiatif;

“Kita harus mengambil sikap saudara, tidak bisa terus menerus kita rapat dan diskusi di sini terus menerus.Kita harus memutuskan,  untuk bergabung bersama ribuan orang yang merasakan situasi yang sama di luar sana. Memperjuangkan hak-hak kita yang dirampas penguasa. Hak-hak untuk dapat hidup; untuk makan, untuk menyekolahkan anak, membeli susu, membeli baju, dan memperoleh jaminan kesehatan!”, lantang suara pak lurah Safrudin yang disambut dengan teriakan-teriakan histeris seluruh warga.

“Setuju, setuju!”

“Hidup pak lurah!”

“Baiklah saudaraku, sudah kita dengar bagaimana keinginan pak lurah. Mari saudaraku, mari kita tuntut semua ketidak-adilan ini, segera kita atur strategi perlawanan. Menyiapkan barisan-barisan perlawanan, yakinlah bahwa kita sudah benar dan yakin atas apa yang kita putuskan bersama ini. Merebut hak-hak kita, dari pemerintah yang sudah abai terhadap nasib rakyat, dan lebih mementingkan kepentingan kaum penindas. Percayalah pada aksi kita ini benar-benar mulia saudara. Bahwa kita sudah muak dengan situasi yang sulit dan lapar ini, ini waktu yang tepat untuk merubah nasib, saudaraku!”, Tambah Karjo, selaku pengurus paguyuban dan penggagas gerakan.

“Ya, segera kita siapkan untuk besok. Ikut aksi turun ke jalan bersama aliansi petani tembakau”

“Yang bisa bantu wajib bantu, kita butuh kendaraan, makanan dan lain-lain”, Usul Mardi

“Ya, kita tunjuk koordinator aksi yang mengatur kegiatan kita besok. Dan saranku, penggagas forum ini jugalah yang menjadi koordinator

aksi untuk besok”, Ujar pak Lurah Safrudin, dengan nada tinggi.

“Setuju, setuju!”, sahut seluruh warga yang hadir, serempak.

Menjelang Maghrib, rapat kali itupun segera berakhir. Dari balai desa tempat rapat digelar, berhambur seluruh warga dari anak-anak,  pemuda dan orangtua. Mereka bergegas pulang menuju rumah masing-masih. Namun teriakan-teriakan semangat masih terdengar sayup-sayup. Dari wajah seluruh peserta yang hadir, nampak semangat yang menyala-nyala dari seluruh peserta.

Malam merangkak pelan seperti laba-laba malas. Hanya suara jangkrik dan burung malam lirih terdengar. Seperti kelelahan, tidak nampak pembicaraan-pembicaraan, obrolan atau diskusi-diskusi warga. Rapat warga tadi sore, telah memeras tenaga dan perhatian seluruh penduduk. Malam itu, lampu-lampu dimatikan lebih awal. Warga tertidur lebih awal.

“Diharapkan, seluruh warga yang telah bersiap segera naik kendaraan yang telah disediakan”, terdengar suara megaphone dari kejauhan.

“Kita berangkat lebih pagi ke Semarang”

“Persiapkan diri, jangan ada yang terlupa”.

Segera jejeran truk itu berarak dari Mbakauan. Semua warga desa hampir semuanya ikut dalam aksi solidaritas tersebut. Hanya beberapa ibu dengan anak yang masih sangat kecil, beberapa jompo, dan warga yang sakit yang saat itu tak bisa ikut dalam rombongan. Bukan, semangat, melainkan keadaanlah yang memaksa mereka tidak bisa ikut dalam aksi tersebut. Mereka yang tidak ikut itu tinggal dirumah dan menjaga situasi desa.

***

Sementara itu di Semarang, ribuan orang telah memadati lokasi aksi. Buruh rokok, Petani dari berbagai daerah, dan elemen dari organisasi masyararakat, LSM dan mahasiswa menyambut warga Mbakauan seperti saudara. Segera, solidaritas antar petani lebur dalam sebuah massa aksi yang terpimpin. Barisan ditata, perangkat aksi disiapkan. Dan bergerak mereka pelan merayap memadati jalan dan arus kendaraan berhenti total. 10.000 manusia di Semarang!!

“Satu komando!”, seru korlap, dengan suara meraung.

“Satu tujuan!”, disambut oleh seluruh pendemo dalam waktu yang bersamaan.

Menuju lokasi aksi, korlap terus memimpin massa aksi dengan nyanyian-nyanyian, slogan-slogan pembawa semangat. 1 jam perjalanan mereka sampai di lokasi yang hendak dituju -depan Gubernuran. Serentak korlap, meminta seluruh massa aksi untuk duduk bersama untuk mendengar orasi. Satu persatu, masing-masing elemen menyuarakan apa yang menjadi tuntutannya.

Orasi telah dibacakan. Suasana semakin ricuh dan panas. Korlap meminta seluruh peserta untuk berdiri. Sementara di hadapan mereka barikade aparat Brimob dan polisi berdiri dalam posisi siap dengan senjata lengkap -senapan, gas air mata juga pentungan.Korlap terus membakar semangat demonstran dengan lagu-lagu, “Buruh-tani”, “Lagu Pembebasan” dan sejenisnya.

“Kita lihat saudara-saudara, di depan kita gedung perwakilan rakyat. Gedung itu punya siapa-saudara-saudara?” Tanya, orator yang berasal dari kalangan aktivis LSM tersebut dengan suara keras.

“Rakyat!”, sahut seluruh demonstran.

“Betul saudara-saudara, gedung tinggi yang menjadi angkuh itu adalah milik kita semua”, Jawab sang orator mengiyakan.

“Saudara-saudara, hari ini kita alami kesulitan ekonomi. Sementara di sana oknum negara telah berselingkuh dengan pemodal untuk menyengsarakan nasib kita”,

“Saksikan pula saudara-saudara, di depan gedung itu, anjing-anjing kaki-tangan modal dengan baju-baju besi berusaha mengamankan kepentingan modal itu saudara-saudara. Polisi dan aparat keamananlah yang merebut tanah-tanah leluhur kita, memaksa, mengokupasi, tanah-tanah leluhur kita. Kaum Petani. Dan kini, kita dianggap sebagai maling! pencuri! siapa yang maling saudara-saudara?! tanya sang orator, sedikit panjang.

“Negara maling, pemodal pencuri, aparatlah penyerobot!”, teriak massa demonstran serempak, bergantian.

“Dalam situasi seperti ini. Tidak bisa kita biarkan kapitalisme terus hidup di bumi kita, saudara-saudara. Rakyat tidak boleh pasrah saudara, kita harus berbuat sesuatu, saudara. Merebut kembali apa yang menjadi milik rakyat. Mengambil kembali kuasa rakyat yang di serobot oleh negara, oleh pemodal. Kita harus, … kita harus …. Harus apa, saudara-saudara?” teriak orator dengan nada tanya?

“Lawan, lawan, lawan!!”….

“Maju, maju!!”.

Situasi berubah menjadi tak terkendali, massa bergerak mendekati gedung rakyat yang dijaga ratusan aparat kepolisian dengan senjata lengkap. Namun jumlah rakyat, jauh lebih besar. Melihat situasi ini, aparat nampak panik dan bersiap-siap. Semakin dekat, situasi semakin tak terkendali, massa mulai ricuh, mereka melemparkan batu, sejumlah bom molotov dan pukulan-pukulan. Polisi terjepit, mereka menembak,melepaskan gas air mata dan pentungan.

“Dor, dor, dor!!”, nampak suara senapan terdengar dari kejauhan.

“Lawan, lawan, maju!”, sementara pada demonstran terus bergerak maju.

“aaah,” Seorang demonstran jatuh tersungkur, memegang dada dan mengucur darah.ok

Massa yang kalap dan terjepit berusaha melawan, mempertahankan diri. Sementara yang ketakutan berlari keluar kerumunan dan berhamburan menyelamatkan diri. Jalan-jalan ricuh, massa aksi berlarian. Polisi terus memburu para demonstran, menginjak, menendang, dan membawanya masuk ke dalam mobil.

Situasi kota mencekam, siang itu. Massa berhamburan ke tengah kota. Merusak apa saja yang dapat dijumpai. Mobil-mobil di bakar, kaca-kaca gedung dilempari batu, kerusuhan semakin anarkhis dan menyebar terjadi penjarahan di toko-toko. []

 

Ketapang, 11-01-2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s