Hannah Arendt

Posted: Oktober 10, 2011 in CATATAN-CATATAN
Tag:, ,

Hannah Arendt adalah salah satu diantara sedikit filsuf perempuan yang muncul dari belahan Barat. Lahir pada 1906, Arendt dikenal memiliki gagasan kritis dan pemikiran yang berjangkauan luas. Dia juga mampu membuktikan diri sebagai pemikir politik yang original dan berpengaruh.

LoveOn Violence

Teori Kekerasan, yang merupakan terjemahan dari on Violence, adalah salah satu hasil perenungannya yang panjang mengenai kondisi perpolitikan internasional. Buah pikiran Arendt ini sangat berguna untuk mengungkap motif munculnya kekerasan di panggung politik umumnya dan di kalangan gerakan mahasiswa/ massa khususnya.

Selain itu Arendt membahas tiga kata yang pada dasarnya mempunyai makna yang berbeda tetapi, dalam penggunaan sehari-hari, seringkali dicampuradukkan: power (kekuasaan), strength (kekuatan), dan force (kekuatan) dan force (daya/paksaan). Tiga kata ini bisa bermakna sama sekaligus berbeda. Di buku inilah, pembaca bisa menemukan latar belakang lahirnya tiga kata utama ini dan bagaimana posisi “kekerasan” di dalam ketiganya. (Hannah Arendt dalam, “Teori Kekerasan”, 2003)

Asal-usul Totalitarianisme: Imperialisme

Filsuf wanita terbesar abad ini memaparkan dalam buku ini telaah komprehensif tentang imperialisme dari sudut tinjauan yang khas; imperialisme yang berarti ekspansi uang alias modal yang dikawal kekuasaan ke negeri-negeri seberang lautan.

Kekuatan ekspansi begitu rupa sehingga tidak lagi merasa wajib tunduk pada hukum buatan tangan manusia. satu-satunya hukum yang mereka taati ialah: “ekspansi demi ekspansi itu sendiri” yang didorong oleh keniscayaan sejarah. Dan bukti absahnya hukum ekspansi itu adalah filosofi sukses: sukses penaklukan, sukses menunaikan tugas suci membuat beradab bangsa-bangsa primitif yang tak beradab, sukses memutar modal yang menganggur di negeri sendiri ke seberang lautan, dan sukses mendulang emas lewat buruh murah, sementara mereka sendiri duduk minum-minum sebagai supervisor. Siapa yang berani menghadang, segera dibersihkan, karena mereka adalah ras unggulan, ras pemegang satu-satunya kebenaran surga.

Sekalipun dalam buku ini terfokus pada paruh kedua abad ke -19 dan dekade-dekade awal abad ke-20, namun logika internal kejahatannya agaknya tetap langgeng sepanjang masa. Maka relevansinya untuk kita, tetaplah ada.

“Pandangan-pandangan Arendt sebagai cendekiawan-filsuf patut mendapat perhatian serius. Sebab mungkin saja ia dapat menyoroti masalah-masalah dunia modern kita secara lebih tajam daripada seorang sejarawan, paling sedikit pandangannya menyegarkan dan memprovook pemikiran kita, sekalipun ia mungkin Cuma melihatnya dari sudut “Jewish-Ghetto on modern imperialism”, demikian antara lain komentar sejarawan kita Onghokham, (Hannah Arendt dalam, “Asal-usul Totaliarism-imperialism” : 1995).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s