Hari Tani: Menagih UUPA 1960

Posted: September 23, 2011 in Tak Berkategori

|diedit dan sedikit modifikasi dari -http://www.iww.org.au/|
Hari tani nasional yang diperingat setiap tanggal 24 September diperingati seiring momentum disahkannya UUPA (Undang-undang Pokok Agraria) Tahun 1960. UUPA 1960 tersebut, walau berlaku sejak 51 tahun lalu, namun situasi keagrariaan kita masih jauh dari keadilan. Hari ini masih kita saksikan terjadinya ketimpangan dalam kepemilikan lahan. Proletarisasi petani dari sumber modal tanah inilah yang akhirnya melahirkan lapisan petani, penyewa, dan petani penggarap.
Dari data Serikat Petani Indonesia (SPI), tahuun 2010 terdapat 28.300.000 rumah tangga terlibat dalam pertanian bisnis-dan 15,6 juta dari mereka adalah petani kecil, yang rata-rata hanya memiliki 0,4 hektar tanah.
Kondisi miskin tanah ini tentu saja sangat menyulitkan para petani kecil ini, bahkan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari mereka. Padahal dari 32.530.000 penduduk miskin di Indonesia, 19,9 juta dari mereka masih tinggal di daerah pedesaan. Dari data tersebut, beberapa dari mereka adalah produsen padi alias petani yang barangkali, sebagai konsumen mereka tidak mampu untuk membeli beras. Dan mayoritas penduduk desa ini jugalah yang paling parah terkena krisis harga pangan. Kalau saja pemerintah mau melaksanakan amanat UUPA, saat ini ada sekitar 9.170.000 hektar lahan pertanian siap untuk didistribusikan di seluruh Indonesia.
Walau beberapa tahun lalu Pemerintah telah meluncurkan Program Reformasi Agraria Nasional (PPAN). Dalam faktanya di lapangan, adalah praktek sertifikasi tanah yang lagi-lagi semakin mengukuhkan dominasi petani pemilik dari petani tak bertanah. Sementara itu, perluasan ekspor komoditas perkebunan seperti; Kelapa sawit, karet, kakao. Percaya atau tidak, hanya sepertiga dari total jumlah tersebut yang saat ini dimiliki oleh masyarakat. Sisanya dimiliki oleh perusahaan atau milik negara.
Situasi deprivasi tanah ini kalau terus dibiarkan tentu akan memicu konflik agraria. Sebab selama ini, petani terus menerus menjadi korban pembangunan baik infrastruktur pemerintah maupun industri. Hak petani rentan untuk dilanggar. Semakin keras petani menuntut tanah, semakin keras pendekatan yang dilakukan Negara. Hal ini dapat kita lihat dari catatan konflik agrarian, diantaranya kasus Tapos, Cimacan, dll. Padahal dalam konteks tanah petani oleh Negara, petani telah diambil hak-haknya dari sumber mata pencahariannya. Kriminalisasi dalam konflik agraria sangat sering, dan petani juga tidak memiliki akses terhadap keadilan. Fakta ini juga membuat orang berfikir dua kali untuk bertindak secara langsung untuk merebut kembali hak mereka atas tanah.
Sejak tahun 1960, petani Indonesia telah mencoba untuk mengambil kembali tanahnya dari perkebunan Inggris dan Belanda. Kemudian, ini membuat pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Pokok Agraria-satu hukum yang mendukung gagasan reformasi agraria dan pastikan tanah adalah untuk petani. Sampai sekarang, kami berusaha untuk menjunjung tinggi konstitusi kita dengan reklamasi hak petani Indonesia atas tanah.
Sejak tahun 1998, SPI dan anggotanya telah mereklamasi ratus ribu semua tanah di seluruh Indonesia sampai tahun 2012. Dalam gerakan ini, kami siap untuk bekerja sama dengan pemerintah untuk melakukan reformasi agraria ‘kasih karunia’. Namun demikian, kami telah melakukan reformasi agraria kita sendiri ‘oleh leverage’, dan kami akan terus melakukan hal itu.
Dalam peringatan Hari Nasional Petani ‘tahun ini, kita sebut pemerintah untuk segera mendistribusikan 9.170.000 lahan bagi masyarakat miskin. Melaksanakan Program Reformasi Agraria Nasional segera! Para petani dan kaum miskin tidak bisa menunggu lagi. Kita membutuhkan pekerjaan. Kita perlu makan. Kita perlu membuat hidup! 20.000 anggota petani dari Serikat Petani Indonesia akan berbaris untuk menuntut haknya pada tanggal 24 September 2011, semua di seluruh Indonesia.
Sadhumuk bathuk, sanyari bumi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s