Kaum Kecil Harus Berpolitik

Posted: Agustus 15, 2011 in IDEA

Above all, the worker must resolutely reject any solidarity with a bourgeois newspaper. And he must always, always, always remember that the bourgeois newspaper (whatever its hue) is an instrument of struggle motivated by ideas and interests that are contrary to his. Everything that is published is influenced by one idea: that of serving the dominant class, and which is ineluctably translated into a fact: that of combating the laboring class. And in fact, from the first to the last line the bourgeois newspaper smells of and reveals this preoccupation.

But the beautiful – that is the ugly – thing is this: that instead of asking for money from the bourgeois class to support it in its pitiless work in its favor, the bourgeois newspapers manage to be paid by…the same laboring classes that they always combat. And the laboring class pays; punctually, generously. (Antonio Gramsci)

Referensi politik rakyat berkiblat pada/di media massa yang dikuasai kaum borjuis. Kepemilikan media yang berlatar belakang pemodal ini sudah tentu dengan kualitas konten yang dapat ditebak, melakukan dominasi dan pemaksaan ide terhadap massa rakyat secara halus.
Sungguh, dialog-debat televisi itu pembodohan massal rakyat yang sungguh-sungguh. Padahal akses ke tekhnologi televisi itulah, mayoritas orang-orang kecil belajar politik. Adagium-adagium khas elit diproduksi terus menerus. Seperti, “Rakyat sekarang sudah pintar!”. Ini adagium khas elit yang berbeda dengan konteks buruh, petani dan massa kebanyakan.

Saya bukan politisi papan atas atau salah seorang yang masuk dalam jajaran elite politik. Meskipun begitu, saya merasa ekspert untuk turut mencampuri ranah politik tersebut. Kenapa? karena empat tahun belajar di universitas, rajin membaca buku, dan menulis, hingga akhirnya mengorganisir buruh tani sudah cukup bagi saya untuk mengatakan, saya berhak pula menjadi aktor politik. Dan pada tulisan ini saya menolak pada setiap pembatasan konsepsi politik, utamanya yang di setting media terhadap massa rakyat selama ini dimana, dialog dan debat politik hanya menghadirkan para orator yang sudah jelas pembohong. Sungguh dosa media televisi utamanya yang membikin kesan, sepertinya politik itu berjas-jas.

Latar Belakang
Korupsi, Pejabat, Negara, kebijakan, Birokrasi, semua istilah-istilah itu seperti menempel dan konotatif dengan konsep politik secara umum. Bahwa bahasa politik itu bukan bahasa petani yang macul, jagongan, memanen, dll. Nampak jelas disini, politik dan wacana yang berkembang sengaja memecah, kesadaran partisipatif orang kecil. Bahwa seperti wajar diterima, bahwa dunia politik dan tetek bengeknya itu sesuatu yang ada di dunia atas, yang tidak memungkinkan petani, buruh, pedagang dan manusia-manusia dari profesi lainnya terlibat dalam berpolitik. Lihalah bagaimana apatisme rakyat dan kesan emoh politik rakyat? Mereka akan merasa inferior dan malas.

Analisa
Politik adalah pertarungan antara kelas-kelas dalam sebuah struktur negara, masyarakat, desa, dusun, RT, RW, keluarga, dan pacaran. Sehingga sebagai sebuah proses pengaturan dan persaingan itulah setiap kelas memiliki posisi berpolitik yang sama dalam ruang yang ada. Hanya saja, mekanisme-mekanisme yang dibutuhkan untuk berkompetisi ini, lalu direbut, dimanipulai dan dihegemoni-kan oleh para penguasa dan pemodal kepada rakyat.

Kalau situasi keengganan politik rakyat ini terus saja dilanjutkan, negara yang seharunys berlangsung kompetisi antar kelas yang saling mengkontrol tersebut sepi dan muncul leviathan leviathan yang dominan. Dan sudah pasti kebobrokan negara itu akan berlangsung secara berangsur-angsur menuju suicide atau bunuh diri. Hal ini menjadi sebuah kepastian, sebab budaya politik yang menguntungkan minoritas penguasalah yang kemudian tampil merepresi mayoritas rakyat yang berasal dari kelas buruh, tani, nelayan, dll. Budaya politik tanpa kontrol mayoritas ini hadir dengan perampasan, korupsi, maling, dan kongkalikong demi kepentingan kelompok atau ego pribadi.

Manusia-manusia satu dimensi akan terbentuk saat minoritas dominan hadir tanpa kontrol dengan budaya buruk. Meskipun secara politik kelembagaan mereka aman dan memiliki otoritas dalam banyak hal, namun kesadaran sebagai kelas borjuis ini belum dapat tumbuh menjadi sempurna. Yang muncul justru adalah individu-individu oportunis yang memanfaatkan organisasi untuk kebahagiaan orang tua, keluarga, anak, teman, dan kesenangan-kesenangan yang bersifat sangat pribadi.

Kesimpulan dan Rekomendasi Tindak
Dari kenyataan kita fikir sejenak lalu kita susul praktek lagi. Inilah yang harus terus menerus orang-orang kecil lakukan. Orang kecil sebagai kelas, sebagai senasib dan sepenanggungan. Akar dari segala kematian politik rakyat ini adalah domiasi televisi sekaligus budaya individu yang menempatkan mereka sebagai penerima.

Kemungkinan kesadaran politik itu dibangun secara pelan sangat pelan. Bahkan saya cukup yakin bahwa kesadaran partisipasi politik rakyat dalam demokrasi dan mekanismenya akan berlangsung secara natural, akibat represi tuan-tuan politikus, pemodal dll. yang dianggap sudah abai. Sekian. (AB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s