Bersatulah Kaum Revolusioner!!

Posted: Agustus 14, 2011 in IDEA

Beberapa pemikir yang mengaku mewarisi tradisi marxis secara membabi buta  menyebut Lenin, Stalin, Mao, Syah dan Soekarno pada masa lalu sebagai ‘kapitalisme negara’. Alasannya, revolusi marxis itu berakar dan berakhir dari kritik kapitalisme. Yakni nantinya buruhlah yang akan memimpin revolusi sosialis. Bukan revolusi yang digagas lumperproletariat, kelas menengah, golongan intelektual, atau borjuasi kecil yang terpisah dari proletariat.

Mari kita lihat kritik seperti yang dilontarkan pada situs: http://arts.anu.edu.au/suarsos/duniaketiga.htm

__________

Pertama, REVOLUSI di Cina pada tahun 1949 adalah sebuah peristiwa historis yang penting, terutama untuk gerakan radikal di dunia ketiga, termasuk Indonesia. Banyak partai Komunis dan kelompok radikal lainnya yang dilhami oleh teori-teori Mao. Dan “Revolusi Kebudayaan” tahun 1960-an juga menjadi inspirasi untuk gerakan-gerakan mahasiswa kiri sampai kini.

Sayangnya inspirasi ini sangat salah arah. Revolusi yang dipimpin Mao tidak membangun sebuah masyarakat sosialis di mana kaum pekerja sendiri yang menentukan kebijakan-kebijakan ekonomi, sosial serta politik. Rezim Maois dikuasai oleh birokrasi otoriter, dan perekonomian RRC tidak luput dari logika kapitalis, walaupun perusahaan-perusahaan besar milik negara. Dan akhirnya, setelah Mao meninggal, RRC yang disebut “sosialis” itu mulai menjelma menjadi negara yang berekonomi pasar dan semakin mirip dengan negeri-negeri lain.

Itu bisa terjadi karena pada dasarnya, tujuan-tujuan Mao dan Partai Komunis Cina bukan untuk membangun sosialisme, melainkan untuk membangun ekonomi nasional yang kuat. Kaum buruh dan tani berkali-kali menjadi korban dari upaya ini.

Kedua, REZIM SYAH ditumbangkan pada bulan Januari 1977 sebagai akibat perjuangan massa rakyat, terutama pemogokan umum kaum buruh. Selama beberapa waktu, rakyat Iran berharap akan masa depan yang lebih cerah. Namun adegan revolusioner ini berakhir dengan kediktatoran baru yang dikuasai oleh unsur-unsur Islamis—reaksioner.

Ketiga, Rezim Castro. Di kampung-kampung, masyarakat diawasi oleh para “Komite Pembela Revolusi” yang berperan seperti RW/RT di Indonesia. Keadaan kaum perempuan juga jauh dari memuaskan. Misalnya kepemimpinan Partai Komunis hampir semua laki-laki.
Walau rezim Castro mengaku sosialis, kaum buruh tidak menguasai proses produksi dan tidak boleh mogok kerja Serikat-serikat buruh peranannya mirip dengan SPSI. Pada tahun 1970 hal ini diakui oleh Mennaker:
“Secara teoretis, para pengelola mewakili kepentingan rakyat. Itu memang benar dan baik. Nah, boleh jadi si pengelola melukan kesalahan demi kesalahan … kaum buruh melihat itu dan merasa harus menerima nasib mereka saja. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.”



Kenapa situasi ini bisa terjadi, mengingat motivasi-motivasi progresif yang telah mengilhami kaum “berewok” yang merebut kekuasaan pada tahun 1959? Penindasan dan penghisapan terhadap kelas buruh merupakan akibat logis dari upaya membangun “sosialisme dalam satu negeri”. Rezim mau mengembangkan ekonomi tanpa dibantu oleh revolusi-revolusi buruh di negeri-negeri lain. Untuk itu, harus mengeruk laba sebesar-besarnya buat di-investasi lagi dalam produksi. Artinya, rezim harus mengakumulasi kapital dari jerih payah kaum buruh. Para buruh diajak berkorban demi tujuan-tujuan revolusi, dan mula-mula mereka bersedia berkorban. Tetapi dalam jangka panjang, eksploitasi in hanya bisa berjalan terus dengan timbulnya struktur-struktur dominasi. Alhasil logika kapitalis muncul juga, walau tidak ada kelas pemilik modal swasta. Sebagai pengganti muncullah sebuah lapisan birokratis yang menjadi kelas penguasa baru. Lapisan ini semakin korup — dan korupsi itu sulit diberantas karena tidak ada demokrasi.
Dalam krisis tahun 1990an, kecenderungan kapitalis ini menjadi lebih parah lagi. Setelah kehilangan tunjangan dari Uni Soviet dan Eropa Timur, Kuba harus membuka ekonominya dan ekonomi itu di- “dolarkan” dengan cepat. Jurang pemisah antara yang punya dolar dan yang tidak punya menjadi semakin besar.
Tentu saja kita tetap mesti membela Kuba melawan ancaman-ancaman imperialis. Boikot perdagangan Amerika Serikat terhadap Kuba harus kita lawan. Rakyat Kuba berhak menentukan nasib mereka sendiri, tanpa campur tangan dari luar. Namun rezim Castro tidak boleh diagungkan atau dijadikan sebuah model untuk revolusi di negeri-negeri lain.

Kesimpulan -http://arts.anu.edu.au/suarsos/duniaketiga.htm
MESKIPUN ketiga revolusi ini agak beraneka ragam, akan tetapi menonjolkan pula beberapa persamaan. Para revolusioner (bahkan yang mengaku Marxis) selalu menjalankan strategi nasionalis; tetapi masalah-masalah sosial yang mendasar dewasa ini tidak bisa diselesaikan tanpa orientasi internasional. Mereka sering mengandalkan pendekatan “strategi tahapan” (revolusi demokratik dulu) yang kerap mengakibatkan kekalahan atau distorsi. Dan mereka tidak berorientasi untuk membangun sebuah partai revolusioner, dan sebuah negara revolusioner, yang berdasarkan pada kekuasaan langsung dan demokratik kaum buruh sendiri. Di Iran dan Cina (1927) mereka kalah secara tragis. Di Cina (1949) dan Kuba mereka menang, tetapi tatanan masyarakat yang mereka bangun belum juga membebaskan kaum buruh dan rakyat.
Kesalahan-kesalahan itu sebagian besar berasal dari fenomena Stalinisme, yang menjungkirbalikkan teori dan praktek Marxis. Negeri-negeri dunia ketiga hanya bisa lepas dari penindasan kapitalis jika kaum revolusioner mengkaji kembali masalah-masalah tersebut. Itu sebabnya Suara Sosialis berupaya untuk menyediakan sebanyak mungkin bahan tentang Marxisme.

_____________

Analisis
Baiklah, saya akan mencoba melakukan otokritik terhadap gagasan tersebut.

  • Secara idealis memang revolusi sosialis di negara-negara terhisap, harus dipimpin oleh kaum yang secara langsung terkena dampak penghisapan tersebut, dalam konteks imperialisme dan kolonialisme, kelas tersebut adalah seluruh rakyat di negara terjajah. Dan pembelaan saya terhadap stalinisme disini adalah, keputusan stalin tersebut sesuai dengan kondisi dan situasi pada saat itu, dimana kesadaran buruh belum terbentuk, terlalu jauh kapitalisme dalam bentuk pabrik-pabrik dan industrialisasi tsar tidak memungkinkan terjadinya kesadaran kelas buruh yang revolusioner. Sehingga, justru sangat dibeanrkan disini, nasionalisme melawan tsar yang dipimpin kelas menengah dalam hal ini Lenin sesuai dengan dialektika dalam konteks tersebut.

sebagaimana Soekarno yang dengan terpaksa harus membaptis diri menjadi seorang pemipin yang revolusioner, walau jika dilihat secara idealis, hal ini merupakan contradictio in terminis dengan logika diktator proletariat. begitupula superioritas Stalin, Mao atau Syah, dimana eksploitasi ekonomis itu belum benar-benar berwujud kepada buruh berhak bagi para pemipin tersebut membaptis diri sebagai seorang revolusioner. Yang penting dan harus digaris bawahi adalah, sejauh komitmen dan dialektika diktator negara atau kapitalisme negara itu adalah untuk golongan buruh dan kelas teramarjinalisasi lain.

  • Elitisme ala stalinisme atau Soekarno dll. selalu berupaya melakukan pendidikan-pendidikan revolusioner terhadap kelas buruh-tani agar kesadarannya tumbuh. dan saya kira, hanya melalui pole pemfiguran yang elitis tersebutlah, rakyat yang masih butuh bimbingan untuk belajar tentang sosialisme-marxisme. Bandingkan dengan rezim pasca Mao yang liberal atau Soeharto di Indonesia, sungguh dua keadaan yang jauh berbeda.
  •  Posisi saya atas kritik stalinisme tersebut, yakni melakukan analisa-analisa sekaligus pembelaan dalam kerangka dialektika situasi di Rusi, China, Indonesia dll. sehingga berkesimpulan bahwa in concreto stalinisme dalam konteks imperialisme dan kolonialisme merupakan jawaban dari dialektika materiaisme historis. meskipun, jika ditilik dari sumber-sumber bacaan tentang revolusi kelas pekerja, Marx tidak secara tega (bahkan cenderung skeptis), terhadap gerakan yang mengaku revolusioner dalam tubuh, sementara secara subyektif dilakukan untuk akumulasi modal pribadi.

Konklusi:

Stalinisme dalam kacamata Marxian adalah sebuah upaya praxis tokoh-tokoh pergerakan melakukan dialektika pembebasan. Lepas daripada kesan elitisme yang melupakan situasi kolonial saat itu. Padahal, Marxisme adalah sebuah metode -perlu kita ingat kembali bahwa Marxisme bukanlah sebuah agama yang melahirkan dogma bagi para demagog yang mengalami demoralisasi. Bukan kesadaran yang menentukan situasi sosial, melainkan situasi sosiallah yang melahirkan kesadaran. Sehingga, jangan terkaget jika membaca bagaimana secara strategi, marx mengalami beberapa revisi dan perubahan di dalam aksi-aksinya.AB-.

Salam perjuangan!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s