Menjajagi Eksistensialisme: Soreen Aabye Kierkegaard

Posted: Juli 25, 2011 in Tak Berkategori


Dalam uraian saya ini, akan saya coba bedah tentang aliran filsafat yang menonjol dalam beberapa dekade lalu dan secara otomatis menjadi kajian wajib atau pintu masuk yang harus dilewati dan pahami bagi pengkaji filsafat. Eksistensialisme nama aliran tersebut dengan nama-nama besar pengusungnya terutama buah pikiran Soreen Kierkegaard, Nietszhe, Berdyaev, Jasper dan Sartre.

Kenapa eksistensialisme penting dipelajari? Bagaimana alur berfikir dan logika yang digunakan? Bagaimana kecocokan filsafat eksistensialisme dalam situasi kekinian? Istilah dan pengertian-pengertian apa sajakah yang biasa dipergunakan dalam filsafat eksistensialisme ini? Siapa saja yang tergolong para eksistensialis ini? Bagaimana keunikan dan pandangan-pandangannya? Dimanakah letak perbedaan antar masing-masing tokoh? Dan terakhir kritik dan penolakan dan bagaimana argumentasi dari pembela filsafat eksistensialis? Bagaimana pandangan argumentasi kaum eksistensialis dalam tema-tema tertentu?

Mukadimah
Eksistensi yang mendahului esensi adalah hakikat pemikiran eksistensialisme, lepas dari berbagai definisi yang mungkin berbeda dari para filsuf tentang apa dan mengapa eksistensialisme itu. Satu titik pijak bahwa eksistensialisme menolak klaim obyek pada manusia, dan membebaskan subyek (manusia) pada posisi yang terhormat.
Jalan kebebasan yang diperoleh secara radikal ini kemudian melahirkan pemikir-pemikir kuat yang menolak dogmatisme, mistisisme dan tabu-tabu tentang apa yang baik dan boleh, serta yang buruk dan jangan. Karena mendudukkan manusia menjadi objek studi maka keunikan-keunikan dan kompleksitas menjadi sesuatu yang ad infinitum.

1. Soreen Kierkegaard
Biografi
Soreen Aabye Kierkegaard adalah filsuf asal Denmark. Ia dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1813 dan meninggal pada 11 November 1855.

Latar Belakang Kehidupan
Kierkegaard hidup dalam berbagai nama samaran diantaranya, Johanes Climacus (Johannes sang Pendaki) dan Johannes de Silentio, hal ini kemungkinan dilakukan sebab ia mengalami krisis identitas dengan membawa nama keluarga Kierkegaard. Soreen dilahirkan dari keluarga besar, dimana ada 7 bersaudara dan ia sebagai anak bungsu. Ia berasal dari keluarga kelas menengah, ayahnya bernama Michael Pedersen dan Ibunya Anne Lund. Soreen mengalami cacat jasmani sewaktu kecil, akibat terjatuh dari pohon.

Michael Pedersen Kierkegaard sangat mengharapkan Soreen dapat bersekolah dijurusan Teologi, setidaknya untuk mengobati dua perasaan traumatis yang pernah dideritanya:

Pertama, saat ia menyatakan amarah pada tuhan kelangit sewaktu kecil di padang tandus sewaktu ia mengembalakan domba.

Kedua, adalah tatkala ia memperistri Anne Lund, dimana ternyata ia pernah bersenggama dengan perempuan lain (dalam keadaan tidak perjaka).
Kierkegaard, mengalami melankoli sejak kecil dimana ia terpaksa menyaksikan banyak saudara kandungnya yang meninggal sehingga yang tersisa kemudian hanya SK sendiri dan kakaknya Peter Christian. Dan peristiwa yang beruntun ini membuat SK berpikir mengapa tuhan sedemikian murka terhadap keluarganya.

Soreen Kierkegaard menjadi pemabuk berat akibat depresi keluarga. Ia berusaha keluar dari rumah, sejak 1 September 1837. Sejak saat itulah Kierkegaard memulai petualangannya dari satu rumah sewa ke rumah sewa lain di Kopenhagen, termasuk kepergiannya ke Berlin yang disebabkan oleh keputusannya untuk tidak menikah dengan Regina gadis yang telah ia tunang.

Konteks Sosial Kehidupan
Soreen menghabiskan Waktunya di Kopenhagen, dan menghabiskan waktu dari satu kamar sewa ke kamar sewa yang lain. Apa yang menimpa dalam kehidupan ayahnya, Soreen merasakan penderitaan yang sangat dimana ia berkesimpulan bahwa kematian amat dekat dengannya akibat kesaksian ayahnya yang dalam hukum negara saat itu merupakan perbuatan tabu dan bersangsi kutukan Tuhan.

Soreen menemukan kembali tuhan dan melakukan pengkajian-pengkajiannya sebagai penganut Teologi Dialektik, seperti Karl Barth, Emil Brunner, dan Paul Tillich.
Abad ke 19 di Eropa Barat merupakan abad kejayaan ilmu pengetahuan positivis yang mengagungkan rasio diatas segala hal (penghayatan). Apa yang universal dianggap kebenaran dan yang partikular dianggap salah.

Yang manjadi masalah dalam abad modern ini menurut Kierkegaard adalah proses berlangsungnya penyemarataan, manusai dalam zaman ini akan menjadi manusia massa, mistifikasi dan kolektivisasi akan menjadi hantu-hantu kepribadian manusia. masyarakat massa ini ditandai oleh; tirani kesamaan, kedangkalan, omong kosong, ketiadaan asa, serta kebinatangan.
Dalam serangannya terhadap kecenderungan kekinian Kierkegaard sudah meilhat potensi Alienasi tersebut:

A Crowd in its very concept is the untruth by reason of the fact that it renders the individual completely impenitent and iresponsible, or at least weakens his sense of responsibility by reducing it to a fraction (POV-114).

Terjemah
”suatu kelompok pada hakikatnya adalah ketidak benaran berdasarkan alasan bahawa kenyataannya kelompok itu menjadikan individu sepenuhnya tak bermakna dan tanpa tanggung jawab, atau setidaknya-tidaknya melemahkan rasa tanggungjawab karena dikurangkannya rasa tanggungjawab itu menjadi sebagian saja”.
Kenapa timbul alienasi? Argumentasi Soreen emrujuk pada fakta pers saat itu yang seharunys menjadi pembina bagi pendapat umum yang justru menjadi pembawa demoralisasi. Padahal secara legitimasi pendapat umum yang dikeluarkan oleh pers selalu merujuk pada anonimitas (tanpa rujukan). Sebagai penentang pers, ia sampai-sampai menyataka bahwa;
“Indeed if the press were to hang a sign out like every other trade, it would have to read: Here men are demoralized in the short possible time, on the largest possible scale, for the smallest possible price”. (J-90)

Terjemah
“Sesungguhnya, kalau pers ingin menggantungkan papan nama seperti halnya dengan perusahaan-perusahaan lain, yang seharusnya tiulis ialah: Disinilah manusia didemoralisasikan dalam waktu sesingkat-singkatnya, dalam jumlah yang sebesar-besarnya, dengan harga yang semurah-murahnya.”

Kierkegaard menganggap bahwa publik selalu anonim, dan ia merasa bahwa kesalahan orang-orang selama ini adalah menganggap bahwa yang publik itu sebagai sesuatu yang nyata dan itu berbahaya. Dari sini Kiergegaard mengajak bahwa eksistensi diri adalah suatu kekuatan yang harus ditunjukkan kepada umum, tidak bersembunyi dalam demonstrasi atau penggabung-penggabungan kelompok yang ia nilai sebagai kemunafikan dan kelemahan. Serangan ini bukan berarti menyimpulkan bahwa Kierkegaard menolak kelompok dan menjunjung egoisitas ke puncak. Namun, Kierkegaard melihat bahwa publik dan kelompok baru baik dan tidak memuakkan kalau di dalamnya terdapat individu-individu berkualitas dan berwawasan etis.

Sistematika berfikir Kierkegaard

Hidup bukanlah sebagaimana kita pikirkan, melainkan sebagaimana kita hayati. Makin dalam penghayatan kita terhadap perihal kehidupan, makin bermaknalah kehidupan. Pada zaman ilmu pengetahuan ini kita semakin mudah diperdayakan oleh semua yang tak bermakna. Hal ini karena kita bekerja dan bergaul melalui abstraksi-abstraksi.

Kierkegaard menolak universalitas, dia bersikukuh bahwa pangkal tolak segala pengamatan adalah manusia sebagai suatu keadaan subyektif.subyektivitas manusai adalah individual. Bagi kierkegaard, manusia yang kongkret dan nyata adalah yang individual dan subyektif bukan yang dipukul rata dan obyektif.

Yes, I perceive perfectly that there are two possibilitties, one can do either this or that”. (E/O vol. II, hal 34)
“ya, sejak semula saya menyaksikan bahwa ada dua kemungkinan, seorang hanya bisa melakukan apakah ini ataukah itu”.
Kemudian dalam pilihan yang dihadapi manusia tersebut yang pertama haruslah diputuskan sejauh menyangkut apa yang baik dan apa yang buruk. Kalau hal ini sudah diputuskan amak pilihan untuk memilih yang baik dan buruk tersebut bisa dibilang bermakna.
Ada beberapa kesimpulan dari cara berfikir Kierkegaard ini diantaranya;

1.      Subyektifitas adalah kebenaran pertama

Becoming subjective is the task proposed to every human being.” (CUP-142)
“Menjadi subyektif adalah tugas yang dihadapkan pada setiap manusia.”
Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi Soreen, mengada sebagai manusia bukanlah sebagai suatu fakta, tetapi lebih dari itu. Eksistensi bagi manusia adalah suatu tugas.

2.      Soal Agama dan Tuhan
Kierkegaard bisa dibilang cukup konsisten dalam pandangan-pandangannya. Bagi Soreen kesamaan manusai hanyalah di hadapan tuhan. Dalam naungan kasih Tuhan semua manusia adalah sama. Tuhan baginya adalah satu-satunya tempat untuk berserah diri dengan segala kesejatian, termasuk menyerahkan hidupnya.

Karya-karya
The Concept of The Dread yang dipersembahkan kepada Professor Paul Martin Moller
The Present Age
The Concept of Irony (1841)
Either/ or dengan nama pena Victor Eremita (1843)
Two discourses at the Communion on Fridays yang dipersembahkan kepada Regina (1848)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s