BerJamaah Produksi: Sketsa Merubah Nasib Pemuda

Posted: Juni 12, 2011 in IDEA

Sudah satu bulan lalu, inisiatif tiga belas pemuda bersarikat dan membentuk jamaah produksi LSD di PP Al-Barokah Ketapang, (salah satu paguyuban anggota SPPQT Salatiga). Dalam jamaah produksi ini, rata-rata mereka yang berpartisipasi adalah anak petani yang masih Muda, enerjik, visioner, penuh semangat dan masih belum punya kesibukan kerja tetap.
Kondisi Pemuda
Pengangguran di desa Ketapang tergolong sangat tinggi, kalau dihitung barangkali dalam satu dusun ratusan penganggur. Salah satu faktor penyebabnya antara lain tak tertampung industri atau enggan ke sawah untuk bekerja seadanya. Tekanan struktural ekonomi inilah yang akhirnya mendesak mereka untuk berkarya di jamaah produksi.
Setidaknya sebelum ada jamaah produksi, geliat kebangkitan ekonomi atas inisiatif beberapa pemuda pernah bangkit. Nasir, fauzan, dkk. Pernah mencoba berusaha namun sayang usaha mereka karena beberapa hal terhambat dan bisa dikatakan gagal.
Sebagai gambaran umum, saat ini akses ekonomi dan kepemilikan alat produksi di desa kami masih dikuasai sedikit golongan orang kaya. Kyai, PNS, pedagang, dan dukun adalah kebanyakan pemilik uang yang. Kepemilikan modal inilah yang akhirnya menempatkan kelas ini semakin ditakuti dan menjadi pihak yang berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari kampung.
Desakan Uang dan Akses Kerja
Kalau tidak urban ke kota-kota besar, lalu bekerjalah mereka memburuh dan mengabdi pada orang kaya dikampung itu. Yang perempuan di bekerja momong anak, menjaga toko, atau pithil brambang, sementara yang laki bekerja sebagai tukang bubut ayam, sopir, kuli bangunan, yang semuanya diupah rendah dan sekedar untuk melangsungkan kehidupan dan bertahan dari desakan ekonomi yang semakin sulit.
Jamaah Produksi dan Skesta Perubahan Nasib
Awalnya rapat-rapat kecil dan berlanjut sampai ke diskusi-diskusi bersama untuk menyambut terselenggaranya jamaah produksi dari SPPQT. Jamaah produksi LSD langsung disambut secara meluas oleh beberapa pemuda-pemudi. Rahma, Lina, Faizah, Arifah, Nuryati dan Zikul adalah nama-nama perempuan yang terlibat. Sementara pemuda jamaah ini beranggotakan; Fauzan, Ayub, Sahrin, Lukman, Nasir, Rouf, dan Mukhlas.
Gagasan usaha yang berusaha dirintis jamaah produksi ini adalah usaha keripik tempe. Meski dalam praktiknya kami semua masih awam dan belum berpengalaman dalam menjalankan bisnis ini, namun pelan kami sudah belajar dan berpraktik membuat dan memasarkan. Hasilnya, -masih jauh dari harapan, produk kami belum diterima pasar karena secara kualitas dapat dibilang –belum layak jual.
Akhirnya hari-hari ini kami menggagas untuk mencari dan mencoba terus produksi, keripik tempe sambil mencoba alternatif-alternatif lain usaha. Diantaranya, mencoba mengembangkan keripik singkong dan ketela yang kalau dihitung-hitung secara ekonomis lebih menguntungkan. Dan hari senin besok adalah waktu kami berkumpul kembali untuk berjamaah produksi membuat produk kripik tersebut.
Modal Uang
Dana dan modal yang sampai saat ini kami pakai selain sumbangan dari LSD adalah kontrobusi dan swadaya dari anggota yang mengambil uang sebesar Rp. 10.000 sebagai modal awal. Sehingga dalam produksi ini kami bermodal hanya sekitar 100.000 –an lebih sedikit.
Dekonsolidasi gerakan jamaah produksi merupakan sumber embrio konflik yang endemik dalam tubuh jamaah produksi. Koletivitas yang terjalin antara pemuda-pemudi yang menganggur, bisa jadi karena merasa rencana bantuan dari serikat yang tak kunjung cair menjadi sumber kekecewaan, yang apabila diteruskan berlarut-larut tanpa kepastian, jamaah produksi di desa kami tinggal cerita.
Jamaah Produksi dalam Ruang Budaya Desa
Budaya desa ketapang bisa disederhanakan berisi paradoks dan dilema percampuran budaya antara kota-desa, tradisional-modern. Perubahan sosial ekonomis sebagai efek masuknya pengaruh budaya luar ke desa biasanya disikapi secara dilematis pula bagi penduduk kampung kami.
Dan, sepeda motor, traktor, internet dan jamaah produksi, barangkali dapat dilihat dari dua kerangka serupa, tepatnya sebagai inisiatif orang / lembaga luar yang diperkenalkan masuk mengganti manajemen ekonomi tradisional ala desa yang dapat diidentifikasi sebagai feodal, patrilineal dan patron (bapak-anak).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s