Mahfud MD: Melawan Lingkar Kuasa

Posted: Mei 29, 2011 in IDEA
Tag:

Perkembangan kasus suap eks bendahara partai Demokrat, Nazarudin pada Sekretaris Jendral MK, Jenedjri M. Gaffar berkembang meluas hingga berpotensi melibatkan banyak ‘orang dalam’ tubuh Partai Demokrat. Sejak dilaporkan dugaan suap oleh MK kepada KPK beberapa hari lalu, media dengan cepat merespon. Termasuk sorotan terhadap keberanian dari MK dalam hal ini dilakukan Jenedjri M. Gafar dan Mahfud MD.

Kasus suap Nazarudin bakal melibatkan banyak pihak dalam tubuh partai Demokrat. Sejumlah nama penting turut terseret, karena sebagai bendahara partai, tentu saja Nazar menjadi pihak paling kompeten dan strategis menangani tentang bagaimana arus keluar masuknya uang yang ada.             Laporan MK nampaknya membuat Nazar mencari posisi aman, sehingga ia mencari perlindungan kepada orang-orang kuat di partai. Termasuk ancamannya untuk terus membongkar pembusukan dalam tubuh partainya, kalau kasus yang menimpanya terus berlanjut.

Nazarudin berasal dari partai Demokrat yang menguasai parlemen hari ini, pengusaha sukses, juga anggota DPR RI. Namun, MK juga bukan sembarang lembaga negara yang bisa di beli atau dilemahkan lewat intervensi politik. Aapalagi, sebagaimana di ketahui ketua MK (Mahfud MD) adalah pejabat yang tegas dan memiliki citra yang Qualified dalam penanganan kasus hukum di negeri ini.

Menghadapi ancaman dari Nazar, Anas Urbaningrum dan ring kuasa juga antisipatif atas potensi destruktif pembongkaran pembusukan dalam tubuh demokrat. Berbanding terbalik dengan MK, yang nampak main aman dengan menyeret Kasus suap Nazar.

Mahfud seorang diri, tak mungkin secara gegabah memutuskan untuk meneruskan kasus ini menjadi lebih besar lagi. Cukup Nazarudin yang di seret dan dipidanakan atas perakra penyuapan yang bisa berarti itu melecehkan nama MK, itu sudah cukup. Masalah Nazar akan mengancam membongkar kasus dana pemilu atau yang lain, MK tidak ambil pusing dengan hal ini.

Tinggal menunggu reaksi Nazar, dan respon Demokrat jika kasus ini akan diteruskan oleh MK. Semakin MK berani, semakin nazar dan demokrat terdesak dan mencari celah. Demokrat tentu saja berkepentingan agar kasus ini tetap aman tak muncul dan lepas keluar, bermanuver lebih lanjut sampai ke pengadilan. Sebab selain merugikan para petinggi partai, citra pemerintahpun turut dipertaruhkan dalam kasus ini. Pada titik inilah perseteruan MK dengan Demokrat berlangsung.

Dua institusi yang berseteru dengan kepentingan masing-masing. Partai demokrat dan MK, meskipun secara komposisi jauh berbeda, MK dan demokrat berada dalam seteru yang seimbang. Tinggal bagaimana kedua lembaga bisa memosisikan diri dalam tempat yang tepat dan main cantik. MK terus kukuh dengan gugatannya ke KPK dan menunggu proses pengadilan, sementara Demokrat berusaha mengurangi dampak kasus agar tak meluas.

Peran MK yang dianggap pihak-pihak yang cawe-cawe dalam urusan demokrat, dan terus mencari celah hukum agar kasus ini bisa berbalik menguntungkan dan mengamankan posisi demokrat. Namun sekali lagi, rasa-rasanya Mahfud cukup kuat untuk setidaknya memberikan shock therapy bagi pejabat yang nakal dan inkonstitusional.

Dukungan publik bagi tegaknya hukum  dalam kasus ini cukup memuaskan. Melihat posisi MK yang cukup kuat dan terpojoknya Nazar dan demokrat, seharusnya media lebih intens mengawal kasus ini agar terus di back up. Kekuatiran muncul saat, beberapa media masih nampak setengah-setengah menyajikan drama ini dan mengemasnya menjadi sekedar lelucon, yang seakan antara Mahfud dengan petinggi partai yang turut meredam dan mengambil peran pemancing agar kasus ini memiliki celah menyerang balik MK atau Mahfud.

Publik lebih banyak diam melihat bagaimana Mahfud terus di pancing emosi, oleh para petinggi Demokrat. Ini tentu situasi yang sulit, sebab proses pengadilan yang nanti dilanjutkan ke depan juga masih samar-samar. Upaya pengaburan isu dari yang semestinya diterima publik, pun sengaja diburamkan menjadi semacam polemik yang seakan tanpa solusi, hingga berpotensi lemah sebelum waktunya pihak pengadilan mengambil sikap.

Kasus suap oleh Nazarudin bagi MK tentu sebentuk pelecehan institusi. Ditengah semangat menciptakan birokrat yang bersih, malah justru lembaga hukum dilecehkan. Fakta-fakta yang terkumpul, tak terbeber secara gamblang dan transparan ke publik.

Apalagi kelanjutan kasus ini akan melibatkan banyak pihak lagi seperti, BK, KPK, Kepolisian, dll. Penyediaan informasi yang transparan dan kontinyu menjadi semacam tuntutan bagi tegaknya hukum di negeri ini. Padahal ditengah miskinnya penuntasan kasus hukum yang melibatkan petinggi negara, gugatan MK ini cukup bisa merepresentasikan perjuangan hukum yang diharapkan oleh publik yang rindu keadilan.

Merefleksi bagaimana kasus ini ke depan, ada beberapa hipotesa yang bisa diajukan, diantaranya. Pertama, Pemerintah dalam hal ini pihak Demokrat akan terus berusaha mengulur-ngulur waktu agar kasus ini terus melemah. Kedua, MK akan kehilangan semangat untuk melanjutkan kasus ini karena berbagai ancaman dan sanksi dari lawan politiknya yang kuat (status quo). Ketiga, Nazar lepas dan demokrat bebas dari sangkaan.

Kasus suap Nazar kepada pejabat MK dan upaya penanganannya seperti sebuah tragedi ironi yang terus berulang. Kasus korupsi pejabat yang berkuasa dan kuat jarang sanggup selesai dengan hasil memuaskan. Sebaliknya, justru para martir-martir yang dianggap berpotensi menghambat jalannya kekuasaan yang berlangsung, akan segera dijinakkan dan dimentahkan dengan berbagai macam cara, baik kompromis maupun konfrontatif/koersif.

Rasa-rasanya menindaklanjuti kasus ini secara murni hukum tanpa pertimbangan pengamanan citra status quo menjadi sesuatu yang mustahil. Apalagi, sudah menjadi rahasia umum, bahwa person yang memegang jabatan selama ini bukan terdiri dari pihak-pihak yang netral. BK yang sebagain besar terdiri dari wakil partai, KPK yang sudah kehilangan nyali setelah dua pemimpinnya dipenjara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s