Berjajar Sejajar

Posted: Maret 9, 2011 in Tak Berkategori

“Dulu memang perempuan hanya “Vrouwenemancipatie”, saja yang diperhatikan. Kaum laki-laki boleh jadi pegawai pabrik, boleh berpolitik, boleh menjadi advokat, boleh menjadi guru, boleh menjadi anggota parlemen, kenapa kaum perempuan tidak?

Wahai kaum perempuan, marilah bersatu, marilah rukun, marilah menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki itu, merebut persamaan hak itu dari tangan kaum laki-laki yang mau menggagahi dunia sendiri!” (dinukil Dari buku Pokok-pokok ajaran Marhaenisme menurut Soekarno, 2006)

Seperti di kutip dalam harian Antara perihal pernyataan Michael Bachelet, Direktur Eksekutif UN Women bahwa,”Fokus Hari Wanita Internasional tahun ini adalah mengenai kesamaan hak kaum wanita untuk memperoleh pendidikan, pelatihan, ilmu pengetahuan dan teknologi, menggaris-bawahi kebutuhan untuk menjangkau hal potensial ini”.

Sekiranya penting sebab itu di peringati. Mengingat dan mengingat supaya tidak terlupa. Bahwa sejarah memori yang perlu dijaga sebagai kekayaan manusia di dunia. Agar tidak jatuh dalam lubang kesalahan. Kesalahan yang fatal dan menjadi kebodohan.

Women’s International Day bukan semata peringatan tanpa makna. Bukan proklamasi atau simbol gengsidan ritual ramai sejenak. Woman’s day international 8 March menjadi penanda atas keberadaan perempuan di muka bumi di banding laki-laki. Ini harus di tegaskan sebab wanita tak pernah diakui sebagai kejelasan yang nyata. Ada kita terima Manusia selalu lelaki, bukan terlampau berlebih anggapan tersebut, bukan?

Women’s International Day mendudukkan masalah atas kebenaran sejarah. Sejarah pembuatan rumah perempuan sebagai hiasan semata. Perempuan sebagai budak, tak lebih keji pelacur-pelacur yang kita temui di rumah bordil dan karaoke. Muda manis bergincu merah menyala, bedak tebal, berbaju mini dan payudara terbuka, hasrat gairah untuk di beli. Oh,,, ini jaman kecantikan, rasa dan kelembutan dan perempuan sudah jadi komoditi.

Tak boleh siksa menyiksa sebagai manusia. Sebagai serasa sesaudara sedunia yang mana harus berharkat mulia. Universalisme yang humanis, sebagaimana di jamin oleh kekuasaan legal pada aras negara dan dunia dengan piagam HAM. Aturan-aturan adalah tegak, sebagaimana kita harus jalankan dalam kehidupan bernegara-pun berdunia dan lebih penting praktik nyata di masyarakat. Persamaan hak harus tegak kokoh berdiri.

Di setiap negeri perempuan selalu perempuan. Merasa dikecewa diskriminasi dan memang di banding-banding dengan si tuan rumah lelaki. Ia di persunting, di paksa melayani saja sebagai perhiasan rumah dengan kerja wajib masak, macak,dan manak.

Di sepanjang rel jalan sejarah tak R. A. Kartini tak pula Britney Spears Era. Penjajahan perempuan bermetamorfosa dalam berbagai bentuk beraneka-macam-ragam. Tapi tetap sama, ia selalu mendapati diri di posisi kalah.

Lalu lantas wajarlah kita bertanya Kenapa?

Pembelengguan atas kebebasan perempuan terjadi di sebabkan oleh karena adanya stereotype atau label yang menyatakan bahwa wanita berletak pada tempat di bawah pria. Wanita bersimbol kelemahan fisik, lemah dan perasa.

Berasal dari mana label buruk atas rupa wajah perempuan ini. Konstruksi atau bangunan sosial itulah penyebab utamanya. Bangunan sosial yang dibangun oleh orang-orang yang merasa diri superior dan terkuat. Itulah dunia laki-laki atau maskulin yang berlawan feminin.

Bagaimana memulai perlawanan terhadap stereotype yang menyudutkan kaum ibu dan perempuan tersebut; adalah melakukan sebuah perbuatan, tindak merubah bangun konstruksi tersebut. Pelan atau cepat melakukan sebentuk perlawanan atas dominasi maskulin atas feminin yang sifat-sifatnya diterima kita sebagai sadar atau tidak.

Bahwa pemberontakan perempuan tidak berwujud tangis saja. Bahwa di negara ini boleh jadi adalah awal sejarah gerakan persamaan atas nasib perempuan tersebut boleh bermula, ada kemiripan situasi konteks. Seperti halnya rintisan awal sejarah diperingati hari 8 Maret 1857 di Kota New York, Negara bagian Amerika Serikat.

Oleh sebab Clara Zetkin yang membarakan kembali peringatan Women’s Day International di Kopenhagen Denmark 1911, setelah sebelumnya menghilang setelah dasawarsa 1910 dan 1920 tidak ada. Kemudian disongsong oleh gerakan feminisme yang marak di dunia pada tahun 1960-an hingga PBB mengakuinya sejak 1975 (Source Tempo).

Berakhirlah sejenak tulisan saya ini….

Buat ibu pertiwi yang sedang bersusah hati, also for my mother who was cooking in the kitchen, Happy International Women’s day 8/3/2011. Semoga berarti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s