Dilema Pemuda Desa (Sebuah Perenungan)

Posted: Februari 19, 2011 in Tak Berkategori
Tag:, , , ,

Kotanisasi desa merupakan efek terjauh sebagai imbas diterapkannya mekanisasi seiring pembangunanisme masa orde baru. salah satu teori besar yang diadopsi saat itu adalah, teori lepas landas dari Rostow di tandai dengan industrialisasi di segala sektor. tak terkecuali pertanian efeknya, hari ini kita saksikan banyak pemuda yang tercerabut dari kebiasaan bertani -emoh bertani (Majalah Basis:2005).

Sebagian pemuda desa di kampung halaman kami yang terdidik, terbelah antara yang menganggur -sebab merasa gagal memasuki dunia kerja yang kompetitif. dan sebagian pemuda lainnya yang ngotot meringsek , -mereka mencoba masuk menguasai struktur ekonomi desa; sawah, bengkel, internet, mesin penggiling/selep, bahkan ada juga yang nekad masuk struktur politik walau itu terbatas pada aras dusun (pilkadus). di luar sektor itu, pemuda yang tak tinggal di desa bekerja merantau ke kota-kota besar, bekerja di pabrik, bangunan dan berdagang.

Pemuda desa yang masih bertahan di desa masih mampu bertahan.mereka menunjukkan sikap lebih cepat dewasa dan cepat dalam belajar tentang berwirausaha dan kerja keras untuk lekas mandiri sebagai bekal masa depannya. Selain iu mereka yang bertahan di kampung halaman relatif lebih punya akar solidaritas yang kuat.

Sayang kesadaran dalam diri pemuda ini belum terorganisir dalam lembaga yang baik. Masing-masing pemuda yang di rumah sibuk dengan kegiatan sendiri yang susah diikat. Padahal, kalau saja para pemuda desa yang tertinggal ini dapat bersatu dan mampu merangkum masalah dengan menyatukan tujuannya sendiri dan, atau bersama aparat berwenang. Niscaya sebuah perubahan sosial ekonomi baru bakal muncul di desa.

Negara dalam Desa

Melihat gairah dan dinamika gerakan pemuda di desa. Seharusnya pemerintah desa melihat potensi ini jauh-jauh hari. membantu mereka yang masih menganggur, dan memfasilitasi mereka yang kreatif.

inilah sejatinya peran negara. menangkap kebutuhan masyarakat dalam hal ini para pemuda dengan pelayanan yang baik. Sebab, bagaimanapun juga, negara berpengaruh besar tentang apa-apa yang sekiranya baik dan perlu.

Kenapa ini perlu dilakukan, sebab dengan kehadiran pemuda yang kreatif dan mandiri ini. pemerintah desa tak perlu repot memikirkan tentang program pemberdayaan pemuda atau karang taruna.

Namun, jauh panggang dari api. Pamong desa sebagai tempat bernaung pemuda justru terkesan abai, acuh, dan biar ketika di ajak berfikir soal nasib pemuda. Para pamong desa biasanya malah menghindar bahkan ada sebagian yang sengaja mengkerdilkan kreatifitas dan ekspresi pemuda desa tersebut.

Kini pertanyaannya, bagaimana mungkin sebuah kemajuan bisa di jejak, kalau setiap gerak inisiatif perubahan disikapi dengan teror dan cemooh? sudah menjadi kata-kata umum dan dogma tanpa gugat. Bahwa, Pertanyaan berlabel menyudutkan pemuda diterima sebagai nilai di masyarakat kita mengatakan, “anak kemarin sore, bisa apa?”.

Kesimpulan

Setiap desa membutuhkan generasi yang cerdas dan pintar untuk menjamin masa depannya. Dan ini menjadi tanggungjawab seluruh bagian desa untuk mewujudkannya. Semoga dari MCT yang diharapkan bisa menjadi kita bisa mewadahi masalah dan mencari solusi semua warga sedesa, terutama pemuda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s