Tua Bodoh

Posted: Februari 11, 2011 in CATATAN-CATATAN

Membiarkan orang bodoh yang terlanjur tua lebih berbahaya. Apalagi kalau tidak sadar kalau dia begitu bebal. Mengatakan kata-kata sampah dari mulutnya. Melakukan tindakan yang tidak dimengerti orang lain. Ia seperti orang ling-lung ditengah dunia yang gegap gempita berubah memodernkan diri.

Tak ada logika selain kepolosan. Akal hanya sampiran karena yang bermain di benak orang-orang seperti ini hanya hasrat. Tak pernah mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, sebab pengetahuan seorang bodoh yang terlanjur tua di dapat dari melihat dan menyaksikan. Sekedar meniru dan meniru. Ia seperti ember kosong melompong. Marah karena tahu dimarahi. Sedih karena tahu orang lain pernah melakukan kesedihan dengan hal-hal serupa.

Wahai kebodohan kau dan orang yang terlanjur dijangkiti, aku begitu gemas menyaksikan. Kenapa kehidupan memberimu waktu. Sementara kau tak pernah punya kejelasan sikap. Selain menuruti hasrat rendah. Wahai kau yang dijangkiti virus kebodohan, kenapa wajahmu tampak polos saja sementara perbuatanmu telah menyakiti hati kemanusiaan secara umum.

Ia tetap saja seperti kemarin, tak pernah berubah dan mau merubah atas apa yang ia dapat. Ia mengejar selayaknya yang orang lain kejar. Merasa memilki apa yang bukan miliknya. Karena secara kesejatian, ia tak memiliki apapun selain yang dimiliki orang lain. Ia merasa telah melakukan sesuatu, padahal sesuatu itu dihasilkan dari keringat dan airmata.

Mereka bisa jadi pembunuh berdarah dingin. Pemburu yang tak pernah berhenti sebelum ia benar-benar mencincang binatang buruannya menjadi berkeping-keping dan berlumuran darah. Kekerasan dan kerakusan yang bercampur dalam rangkai darah, jika itu terturut, sepuasnya ia akan tertawa..

Harap menolong negeri, mencurahkan pengabdian bangun generasi. Anak-anak seperti pohon. Dengan bibit dan pengolahan yang baik, bisa kita bentuk menjadi pohon yang produktif dan subur.

Tugas orang muda keluar dari penjara. Rumah yang menguncinya denggan segala suruhan, larangan dan bangunan kekalahan. Rumah yang menggelapkannya dari penglihatan pemiskinan, penindasan dan penistaan sesama.

Salatiga, 10-02-11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s