Posted: September 22, 2010 in Tak Berkategori

PERJALANAN

 

Kematian jalan berpulang

Terlahir dalam telanjang

Menepak jalan mencari diri

Kemanusiaan yang sejati

 

Wahai kehidupan,

Kepada siapa aku memuja?

Keterbuanganku disisa hidup

Terlahir sebagai tak berpunya

 

Tuhan engkaukah itu?

Tempat curahan keprihatinan

Yang compang-camping mencari tempat teduh

Yang papa menghirup nestapa

 

Siapakah diriku?

Kemana tujuan terakhir?

Pertanyaan tak terjawab sepanjang hayat

Kuharap, dipelabuhan-Mu kutemukan jawab.

 

Salatiga, 2009

Petani dan Tuhan

 

Selepas Shubuh menantang peluh

Usai khusyuk menusuk

Kepadanya, diatas tanah Tuhan mewarta

Di antara rerimbun hijau padi

Di sekitar lembah bebatuan hitam

 

Petani mendapati-Mu

Di setiap kayuh cangkul

Di tiap dengus keluh

Dalam setiap butir peluh

 

Sawah-sawah menjadi surau-surau kecil

Tempat anak petani mengaji harapan

Dalam tiap batang padi yang tumbuh

Terkandung makna kehidupan

 

Bertani berarti ketakwaan

Menghindari tamak dan kufur

Untuk mengabdi dan selalu mengingat

Atas kuasa-Nya segala hidup

 

Salatiga, 2009

Desa dan Dosa

 

Sebongkah wilayah hijau

Tatkala peradaban di susun

Di atas kasta yang mengikat

Buruh tani terpojok sendiri

 

Desa tempat dosa

Jika dosa diartikan kemiskinan

Desa menyimpan dosa

Jika ketimpangan menyimpan dendam

 

Jika kuasa Tuhan berarti Kyai

Surga tempat para penguasa

Jika gugatan berarti ingkar

Petani miskin tetap miskin

 

Lalu siapakah Tuhan kaum miskin?

SALATIGA, 2009

17 JULI 2009

 

Jakarta di guncang bom lagi

Metropolitan jadi ladang penguburan mayat

Bau anyir darah amis menyengat

Di sekitar Ritz Charlton dan JW Marriot

 

Kepada para teroris yang mengaku agamis

Yang atas nama Tuhannya mereka berjihad;

 

Kita sama seagama

Terkadang, kusebut namamu dalam do’a

Kini aku meragukan keagamaanmu

Jika religiusitas justru menjadi petaka?

 

Hari ini agama digugat

Hari ini Tuhan disentak

Umat yang kaget tersedak, berteriak menghentak

“apakah itu agama sejati?”

 

SALATIGA, 2009

Do’akan Aku pada Tuhanmu

 

Kekasihku, jika tahajjud malam membangunkanmu

Sementara aku dan kebanyakan orang masih tertidur

Aku minta, bangunkan aku dalam doamu

Sebutkan namaku untuk Tuhan

 

Karena doa yang meluncur dari bibir lembut

Laksana dua kekasih yang tengah kasmaran

Saling membagi dan mengusahakan

Saling memberi tanpa permintaan

 

Aku minta sekali lagi wahai kekasihku

Jika dirimu tengah larut dalam peribadatan

Aku menitip mintakan surga untukku

Karena aku tak berani meminta surga

 

SALATIGA, 2009

 

 

 

 

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s