Redistribusi Tanah Sebagai Kebijakan Politik Populis

Posted: Agustus 4, 2010 in Tak Berkategori

Maraknya proyek pembangunan yang membutuhkan lahan seperti real estate, mall, pabrik industri merupakan sebentuk upaya meningkatkan kemakmuran masyarakat. Melalui penanaman modal, negara memberikan hak guna usaha bagi swasta untuk menjalankan usahanya. Sayangnya acapkali proyek pembangunan itu mengorbankan kepentingan masyarakat sipil. Seperti, maraknya penggusuran dan sengketa pembebasan tanah yang mempertemukan antara rakyat vis a vis negara.

Dalam paradigma kebijakan developmentalisme pada masa orde baru jelas terlihat kecondongan nyata keberpihakan negara pada sektor industri. Akibatnya pertanian sebagai sektor yang menampung sebagian besar penduduk terpaksa harus dinomor duakan. Salah satunya kebijakan revolusi hijau dengan Intensiikasi dan ekstensifikasi pertanian, menjadi solusi mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Diharapkan dengan kebijakan revolusi hijau, rakyat akan mampu merubah pola tanam menjadi semakin efisisen dan efektif, yakni menghasilkan panen melimpah dengan waktu yang singkat.

Kritik atas paradigma revolusi hijau pada masa Orde Baru, muncul dari kalangan LSM yang melihat pembangunan itu cacat dan salah kaprah. Dari segi Pemberdayaan, pembangunanisme menempatkan rakyat sebagai obyek sehingga efek dominonya rakyat semakin terkikis otonominya menjadi sepenuhnya tergantung kepada negara. Sementara itu dari output yang diharapkan bukannya peningkatan hasil pertanian, melainkan penurunan kualitas tanah akibat dari asupan kimiawi yang berlebih, akibat kurangnya asupan organik.

Keterpurukan ekonomi akibat krisis ekonomi yang dimulai sejak akhir 1997, berlanjut sampai sekarang. Terbukti paradigma pembangunan gagal menawarkan solusi peningkatan sumberdaya rakyat. Saatnya kini pemerintah mengembalikan kedaulatan kepada rakyat, yang sebagian terbesar berada pada sektor pertanian. Penghentian konversi tanah pertanian untuk industri merupakan tindakan nyata yang harus diambil.

Salah satu tesis tentang bias perkotaan mengatakan bahwa semakin sempitnya lahan dipedesaan memaksa penduduk terutama kaum muda untuk berpindah menjadi migran diperkotaan. Apa yang bisa mereka lakukan karena sektor industri membutuhkan tenagan kerja terampil dan berpengalaman, sementara mereka adalah kaum marginal yang minim keterampilan dan sangat endah tingkat pendidikannya. Disinilah permasalahan perkotaan muncul, ditandai dengan maraknya kriminalitas yang akhir-akhir ini semakin marak, pengangguran, dan menciptakan kantong-kantong kumuh di bantaran kali.

Permasalahan yang terjadi di hilir (desa) merupakan basis bagi penyelesaian permaslaan di hilir. Pembangunan yang berorientasi lokal, harus menarik minat penduduk sehingga mereka enggan pergi dan bekerja kekota. Penulis berpendapat bahwa orientasi industri yang dijalankan pemerintah merupakan sebentuk egosime. Realitas kemiskinan yang memojokkan penduduk ke batas subsistensi harus segera diatasi. Harus ada jaminan ketercukupan makanan dan kebutuhan biologis yang merata kepda setiap bagian penduduk, ssebelum berlari dan meloncat untuk fokus ke industrialisasi.


Kebijakan populis dapat diartikan suatu kesepakatan yang menempatkan mayoritas sebagai fokus pemecahan. Kita patut mengapresiasi kebijakan politik Orde Lama, yakni diterbitkannya UUPA 1960 yang berfokus pada redistribusi tanah kepada petani penggarap. Bayangkan saja bila setiap petani kita memiliki tanah sendiri, dia tidak perlu menjadi penggarap atau menyewa tanah kepada siapapun. Sayangnya kebijakan UUPA begitu cepat tenggelam menyusul pemberontakan PKI tahun 1965, BTI yang menjadi aggresor utama kebijakan ini dianggap anti-pemerintah saat itu yang mencoba melakukan coup.
Semakin jelas terbukti bahwa kerjasama pemerintah dengan swasta selama ini tidak menguntungkan. Pengusaha dan pemodal banyak melalaikan, dampak degradasi lingkungan sekitar, serta nilai-nilai kearifan lokal dan budaya masyarakat dimana sebuah industri didirikan. Industri kita sama sekali tidak pro-rakyat karena semata-mata berprinsip maksimalisasi untung saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s