Manusia Kartini Biasa Saja

Posted: April 22, 2010 in OLEH-OLEH

Orang Jawa dianiaya
Aku akan menyetopnya
Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia
(Multatuli “Minnebrieven”)

21 April 1879 atau tahun Jawa 28 Rabiulakhir 1808 Raden Ajeng Kartini dilahirkan tepatnya di distrik Mayong, Kabupaten Jepara. Ibunya merupakan seorang feodal keturunan Ratu Madura (?) Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat yang pada saat itu menjabat Asisten Wedana Onderdistrik Mayong.

Sejak jabang bayi Kartini telah mnerima diskriminasi sosial karena sesuai adat di gedung keasistenwedanaan ibunya tidak diperbolehkan melakukan pengasuhan. Menurut Nyonya Marie C. Van Zaggelen pengasuh atau emban Kartini adalah Rami/Rukmini.

Masa kecil Kartini penuh diwarnai oleh Konflik Permaduan dan Konflik Rumah-Tangga. Setahun setelah kelahirannya, menyusul kelahiran adik-adiknya (6 orang) dari ibu yang lain. Dan pada saat itulah Ayah Kartini oleh Pemerintah Hindia Belanda diangkat untuk menjadi bupati Jepara.

Hidup dalam pasungan adat priyayi Jawa saat itu melarang keras gadis-gadis dari kalangan feoal dan golongan menengah untuk belajar keluar rumah. Namun Kartini berhasil memasuki sekolah- Sekolah Rendah Belanda (1899). Namun keinginannya untuk memperoleh pendidikan lebih sekedar sekolah rendah ini terpaksa harus gagal akibat tidak diperkenankan oleh ayahnya yang sangat dipengaruhi oleh adat istiadat saat itu yang memandang kedudukan rendah wanita.

Selepas menamatkan pendidikan di sekolah rendah, kartini memasuki babak baru dimana ia masuk dalam pingitan. Dan dalam kurungan adat inilah selanjutnya Kartini larut dalam bacaan dan buku-buku hadiah dari Ayahnya. Kartini belajar banyak tentang paham kebebasan/liberalisme yang berkembang di Barat pada waktu itu. Ia melakukan komparasi/perbandingan antara kehidupan di Barat dan timur dan disitulah ia melihat adanya ketimpangan posisi antara laki-laki dan perempuan; ketidakadilan!

Pada tahun 1896 Kartini memperoleh kebebasannya kembali. Ia diperkenankan untuk keluar rumah. Kesempatan ini ia pegunakan untuk mengenal rakyatnya. Kartini mempelajari seni rakyat seperti, gamelan, batik, kebaya, lagu dolanan anak-anak, kerajinan tangan pribumi dll. Disinilah permulaan Kartini mengalami pengenalan yang mendalam tentang Rakyatnya. Kecintaan dan ketulusan Kartini kepada rakyatnya yang kemudian berkembang menjadi patriotisme yang luas dan nasionalisme yang posisional (Pramoedya A.T: 1997).

Kebencian kartini terhadap Feodalisme Jawa diwujudkan dalam kumpulan surat-suratnya kepada teman-temannya, Estelle Zeehandelaar, van kol, R,M. Abendanon, j.h. Abendanon dll. yang berjudul, “Door Duisternis tot Licht (DDTL): gedachten Over en Voor Heet Javaansche Volk van Raden Ajen Kartini” yang terbit atas prakarsa Mr. J.h. Abendanon pada tahun 1911. di dalamnya Kartini ingin menyatakan, bahwa sebenarnya kemajuan Rakyatnya di halang-halangi oleh kaum Arisktokrat sendiri, karena kaum ini menganggap dirinya paling mulia dalam masyarakat.

Kartini menggambarkan masyarakat pribumi sebagai “rimba-belantara” yang gelap-gulita. Situasi pribumi yang “gelap-gulita’ ini, mendorong Kartini untuk mengobarkan pentingnya pendidikan dengan intelektualitas Eropa atau ilmu pengetahuan. Kartini berpandangan bahwa, “Dengan pendidikan dan kemajuan yang merata kondisi penjajahan tentu juga lenyap, maka pribumi dan Belanda tidak lagi hidup dalam satu dunia sebagai hamba dan tuan, tetapi sebagai sesama, sebagai saudara, setingkat dan setaraf”.

Selamat Hari Kartini 21 April 2010! Semoga semangat perubahan dan ide-ide pembaharuan menyeluruh di masyarakat seperti dipejuangkan Kartini menjadi obor dan inspirasi bagi perjuangan emansipasi perempuan masa kini. Marilah kita mere-definisikan lagi makna hari Kartini dengan merefleksi berbagai persoalan perempuan di masa kini.

Ketapang, malam hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s