Pesimisme atas Nasib Anak Bangsa yang Dikomoditaskan

Posted: Februari 9, 2010 in Tak Berkategori

Sungguh miris menyaksikan wajah-wajah cantik para ABG yang tengah dewasa berjejer menunggu para pria hidung belang di sebuah lokalisasi di Salatiga. Bukannya mengerjakan pekerjaan rumah atau belajar untuk mengejar cita-cita. Mereka terpenjara dalam sebuah struktur dangkal pemahaman hasrat. Cinta yang primitive telah menggiring mereka pada persepsi cinta sebagai sebuah hubungan persetubuhan. Bukan hanya itu realitas budaya consumer telah menjebak mereka sebagai konsumen produk-produk modern yang belum tentu harganya terjangkau untuk mereka beli. Sebagai pilihan instant lokalisasi telah menjadi sebuah industri yang mewadahi perempuan-perempuan itu jalan ‘sesat’ yang pintas dan mudah. Menjual tubuh dengan harga yang sangat terjangkau.

Terjadinya disfungsi sosial pada institusi moral, agama dan para penegak hukum. Akan membawa konsekuensi logis merapuhnya tabu-tabu nilai-nilai social yang telah disepakati dalam suatu masyarakat. Fenomena terbetotnya nilai kemasyaraatan yang menghargai tubuh sebagai sesuatu yang suci (sacred) dapat dijumpai pada maraknya kenakalan remaja, perilaku menyimpang pada waktu berpacaran. Hingga merebaknya kanal-kanal tempat penyaluran hasrat yang bernama lokalisasi, motel, dan salon plus-plus dll.

Fenomena pengumbaran hasrat libidinal ini dalam tradisi posmodernisme yang diwakili oleh Felix dan Guattari mencoba melihat problematika seksualitas dewasa ini sebagai akibat pembelengguan hasrat oleh apa yang dinamakan rasionalitas etis. Sementara hasrat sendiri diartikan sebagai dorongan-dorongan yang timbul secara psikologis dan irasional. Termasuk didalamnya seksualitas.

Memang modernisme sebagai sebuah ‘megaproyek’ pascakolonial tidak hanya menyisakan sejumlah masalah, namun juga menyimpan sebuah potensi daya rusak yang lebih. Diantaranya berupa masuknya nilai-nilai modern yang mengandalkan rasionalitas (efektivitas dan efisisensi) sebagai nilai baru yang menggantikan nilai-nilai primitif kebudayaan tradisional.
Realitas virtual dalam tekhnologi informasi yang digandeng kapitalisme dalam wajah libidonomics telah menjadikan sebagian terbesar anak muda kita sebagai sasaran-sasaran produk kosmetika. Inilah yang dinamakan libidonomics, yakni sistem ekonomi yang memanfaatkan unperfektifal tubuh dengan cara menciptakan produk-produk yang mencoba menutupi kekurangan-kekurangan pada tubuh perempuan.

Banalitas dan gejala komoditisasi tubuh ini telah sedemikian akut. Optimisme kita akan sebuah mitos progress kemajuan nampaknya akan berbalik arah menjadi pesimisme total. Bagaimana tidak generasi muda yang diharapkan menjadi avant garde perubahan sosial telah menjadi budak-budak Mtv. Mereka telah memilih untuk tetap melanjutkan stagnansi realitas sebagai manusia-manusia boneka dihadapan produk-produk impor. Memuja-muja merk-merk terkenal dan mendandani sekujur tubuh (dari ujung rambut sampai kaki) dengan produk-produk asing tanpa pendalaman makna dan tujuan.

Langkah menyelamatkan generasi ini bukan sesuatu yang mudah. Globalisasi ekonomi telah sedemikian dalam memenjarakan kita dalam kungkungan produk sehari-hari generasi modern. Tidak mungkin lagi kita menutup katub-katub ekonomis produk generasi muda karena hal itu sama saja bunuh diri (ikatan kerjasama luar negeri). Selain itu globalisasi sendiripun bukan momok yang selamanya berefek negative. [AB]

Komentar
  1. Yoga Jatmika mengatakan:

    Generasi muda Indonesia tidak siap dengan adanya modernisasi global. Ciri mudahnya adalah mereka menangkap teknologi dengan pemikiran mentah dan praktis. Sehingga banyak produk-produk teknologi yang notabene berfungsi memudahkan aktivitas manusia, di salah artikan menjadi memudahkan aktivitas negatif manusia. Internet adalah mudahnya ; dengan berdalih kebebasan berpendapat, situs-situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter, dijadikan ajang penghinaan terhadap kaum-kaum tertentu; youtube dijadikan situs favorit untung mendownload video-video dewasa yang secara tidak langsung akan ‘mendewasakan’ pikiran generasi muda.
    Agama merupakan benteng yang paling ampuh menghadapi kemajuan teknologi yang pesat. Ketika doktrin agama itu berhasil di tanamkan, maka generasi muda indonesia akan lebih bisa mengendalikan ‘hasrat’ keduniawian, yang berupa gaya hidup modern.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s