Sekolah Alternatif

Sebuah kegairahan dalam mengelola pendidikan non formal, saat ini muncul di Desa Ketapang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Segenap komponen masyarakat setempat, yang dikomandoi seorang kepala desa perempuan, Hj Anjar Muthowali SPd, sukses membangun sebuah Kelompok Belajar (Kejar) Paket B setara SMP unggulan bernama “Qaryah Thayyibah”.

Selama ini, masyarakat luas tentu hanya mengenal kata unggulan pada sekolah-sekolah reguler saja. Sedang yang namanya Kejar Paket, baik A,B, maupun C, cenderung masih dianggap sebagai tempat belajarnya kaum pinggiran, yang erat dengan kebodohan, kemiskinan serta keterbelakangan.

Tapi stempel kusam tersebut tidak berlaku di Kejar Paket B setara SMP unggulan Qaryah Thayyibah. Bagaimana bisa disebut bodoh, miskin, dan terbelakang, jika para warga belajar yang semuanya rata-rata usia sekolah, ternyata cukup cas-cis-cus dalam berbahasa Inggris?

Bukan itu saja, mereka juga sangat piawai menjalankan kurikulum yang di desain untuk life skill. Seperti menangkar ikan lele, koi, gurame dan belut. Keterampilan lainnya adalah mengawinkan salak pondoh, serta buah-buahan lainnya.

Kalau kita mengunjungi langsung Desa Ketapang, kita akan semakin terberlalak. Karena sistem pendidikan di sini sudah komputerisasi. Selain itu, seluruh warga belajarnya yang masih bertampang “desa” tadi, ternyata telah mahir mengakses dunia maya (internet), bekerja sama dengan Indonet Salatiga.

“Warga belajar kami yang mencapai 57 anak, terdiri kelas I (21) dan kelas II (36), semuanya sudah memiliki alamat email sendiri. Pandangan hidup mereka tidak kalah dengan anak-anak orang kaya di kota. Warga belajar di sini boleh miskin, tapi bukan berarti mereka bodoh dan terbelakang,” kata Kepala Desa Ketapang, Hj Anjar Muthowali SPd, yang sekaligus bertindak sebagai pengelola Kejar Paket B setara SMP unggulan Qaryah Thayyibah, kepada Suara Karya ketika mengunjungi kampusnya yang dibangun di atas tanah hibah seluas 500 meter persegi, pekan lalu.

Didampingi salah seorang tutornya, Drs Mustofa, lebih jauh Anjar Muthowali mengatakan, Kejar Paket B setara SMP dibangun dari konsep keprihatinan dengan selalu mengangkat isu kearifan lokal. Pola penyelenggaraannya terpadu dengan mengikutsertakan komponen masyarakat baik yang berprofesi sebagai petani, polisi, pengusaha, atau pegawai negeri.

Karena temanya mengangkat isu kearifan lokal, maka Kejar Paket B yang juga disebut-sebut sebagai SMP Alternatif Qaryah Thayyibah tersebut, ke depan juga ingin membentuk warga belajar yang memiliki kepekaan sosial di lingkungan masing-masing.

Konsep pembelajarannya sendiri, lanjutnya, menggunakan metode induktif. Artinya dari belajar alam dan praktik-praktik warga belajar menuju pada teori untuk merumuskan konsep dalam bentuk nyata, sehingga warga belajar dapat melakukan penelitian alam sekitar kemudian dijadikan kesimpulan materi belajar bersama.

Menilik Kejar Paket B di Desa Ketapang yang baru berumur dua tahun tersebut, maka perkembangan yang telah diraih di atas benar-benar merupakan sesuatu yang fantastis.

Keberadaannya semula hanya diperuntukkan bagi warga miskin, namun dalam perjalanannya kini Kejar Paket B setara SMP Qaryah Thayyibah juga diburu-buru warga dari keluarga mampu. Tidak sedikit warga menempatkannya sebagai SMP Alternatif.

“Sekolah di sini benar-benar menyenangkan dan mengasyikkan. Karena itu saya rela keluar dari SMP Reguler di Karanggede lalu pindah ke Kejar Paket B Qaryah Thayyibah,” tutur Anggraini Ratna Hapsari (14) salah seorang warga belajar.

Ketika ditanya apakah keluarnya dia dari SMP reguler akibat kesulitan ekonomi, dengan tegas Anggraini menjawab: “Tidak!”. Sebab, ayahnya sendiri adalah seorang Kepala SMP Negeri. Gadis manis itu mengungkapkan, selain menyenangkan dan mengasyikkan, justru di Kejar Paket B inilah dia memperoleh ilmu yang tidak didapatkan di SMP reguler seperti internet/komputer, belajar peternakan, perikanan, dan pertanian organik.

Secara terpisah, Penanggungjawab Pendidikan Luar Sekolah Subdin PLS OR, Dinas P dan K Jawa Tengah, Drs Jukri MPd, mengakui, bahwa Kejar Paket B setara SMP unggulan Qaryah Thayyibah, saat ini memang telah membuktikan mampu memberikan hak-hak orang miskin untuk menjadi pintar.

Karena kemandirian dan kepintaran yang diraih para warga belajarnya, ungkap dia, maka Subdin PLS OR Dinas P dan K Jateng bertekad akan mengikutsertakan warga belajar di Kejar Paket B setara SMP Qaryah Thayyibah, bertarung di Olimpiade Sains Nasional. (Pudyo Saptono: Suara Karya 2006)

Komentar
  1. sitakka mengatakan:

    gimana pengelolaan kurikulmnya ?. apakah sejalan dengan pendidikan formal ataukah tidak?.

    • Paguyuban Petani Al-Barokah mengatakan:

      Kami membuat kurikulum sendiri, prinsipnya berbasis kearifan lokal. karena daerah kami pertanian kurikulum kami terintegrasi ke pertanian, terutama padi organik.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s