SARINAH : Kewajiban Perempuan dalam Perjuangan Republik Indonesia

Posted: Juli 5, 2012 in Tak Berkategori
Tag:, , , ,

KATA PENDAHULUAN

Sesudah saya berpindah kediaman dari Jakarta ke Jogjakarta, maka di Jogja itu tiap-tiap dua pekan sekali saya mengadakan “kursus wanita”. Banyak orang yang tidak mengerti apa sebabnya saya anggap kursus-kursus wanita itu begitu penting. Siapa yang membaca kitab yang saya sajikan sekarang ini, -yang isinya telah saya uraikan di dalam kursus-kursus wanita itu dalam pokok-pokoknya -, akan mengerti apa sebab saya anggap soal wanita itu soal yang amat penting. Soal wanita adalah soal masyarakat.
Sayang sekali, bahwa soal-wanita itu belum pernah dipelajari sungguh-sungguh oleh pergerakan kita. Sudah lama saya bermaksud menulis buku soal itu, tetapi selalu maksud saya itu terhalang oleh beberapa sebab. Tetapi sesudah kita memproklamasikan kemerdekaan, maka menurut pendapat saya soal-wanita itu perlu dengan segera dijelasakan dan dipopulerkan. Sebab kita tidak dapat menyusun negara dan tidak dapat menyusun masyaraat, jika (antara lain-lain soal) kita tidak mengerti soal-wanita. itulah sebabnya saya, setiba saya di Jogjakarta, segera mengadakan kursus-kursus wanita itu. Atas permintaan Banyak orang, apa yang saya kursuskan itu kemudian saya tuliskan, dan saya lengkapkan pula. Buku “Sarinah” inilah hasilnya.Apa sebab saya namakan kitab ini “Sarinah”?
Saya namakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia “mbok” saya. Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat bayak pelajaran mencintai “orang kecil”. Dia sendiripun “orang kecil”. Tetapi budinya selalu besar!
Moga-moga tuhan membalas kebaikan Sarinah itu!
Kata pendahuluan ini saya sudahi dengan mengucapkan banyak terimakasih kepada sdr. Mualliff Nasution, yang selalu bekerja keras menyelenggarakan kursus-kursus wanita itu, dan menyelenggarakan penerbitan kitab “Sarinah” itu pula.

SOEKARNO
Jogjakarta, 3 Nopember 1947.

Bab I
SOAL PEREMPUAN


Satu pengalaman beberapa tahun yang lalu, waktu saya masih “orang interniran”:
Pada suatu hari, saya datang bertamu bersama-sama seorang kawan dan isteri kawan itu pada salah seorang kenalan saya, yang mempunyai toko kecil. Rumah-kediaman dan toko kenalan saya itu bersambung satu sama lain: bagian muka dipakai buat toko, bagian belakang dipakai buat tempat-kediaman.
Dengan budi yang amat manis kami diterima oleh kenalan itu, dipersialakan duduk. Kami-yaitu kawan saya, isterinya, saya, dan tuan rumah – duduk berempat dekat meja tulis toko itu. Sigaret dikeluarkan, teh dihidangkan. sesudah bercakap-cakap sebentar -“bagaimana kesehatan?”, “bagaimana perdagangan?” – maka kami (para tetamu) menerangkan kepada tuan rumah, bahwa maksud kami datang, bukanlah untuk membeli ini atau itu, melainkan semata-mata hanya buat bertamu saja.
Isteri kawan saya menanyakan: bagaimanakah keadaan nyonya rumah? – ia ingin ajar -kenal dengan nyonya rumah.
Di sini tuan rumah nampak menjadi sedikit kemalu-maluan. Rupanya ia dalam kesukaran untuk menjawab pertanyaan itu. Sebentar telinganya menjadi kemerah-merahan, tapi ia menjawab dengan ramah-tamah: “O, terima kasih, ia dalam keadaan baik-baik saja, tetapi sayang seribu sayang ia kebetulan tidak ada di rumah – ia menengok bibinya yang sedang sakit”.
Isteri kawan saya menyesal sekali bahwa nyonya rumah tidak ada di rumah; terpaksa ia belum dapat ajar-kenal dengan dia hari itu.
Tetapi … tak lama kemudian …. saya, yang duduk berhadapan kain tabir yang tergantung di pintu yang memisah bagian-toko dengan bagian-rumah-tinggal, saya melihat kain tabir itu bergerak sedikit, dan saya melihat mata orang mengintai. Mata orang perempuan! Saya melihat dengan nyata: kaki dan ujung-sarung yag kelihatan dari bawah tabir itu, adalah kaki dan ujung sarung perempuan!
Dengan segera saya palingkan muka saya, berbicara dengan tuan rumah dengan memandang muka dia saja. Tetapi pikiran saya tidak tetap lagi. Satu soal telah berputar di kepala saya. Bukankah perempuan yang mengintai tadi itu isterinya tuan rumah? Mana bisa, tuan rumah toh mengatakan, bahwa isterinya sedang merawat orang sakit? Tetapi…. mengapa ia tadi kelihatan malu-malu, telinganya kemerah-merahan, tatkala ditanya dimana isterinya?
Saya ada dugaan keras, bahwa tuan-rumah itu tidak berterus terang. Rupa-rupanya isterinya ada di rumah. Tetapi ia tak mau memanggilnya keluar, supaya duduk di toko bersama-sama kami. Sebaliknya ia tidak mau mempersilakan isteri kawan saya supaya masuk ke dalam, ke bagian belakang, tempat kediamannya sehari-hari. Barangkali memang tidak ada tempat penerimaan tamu yang layak, di tempat kediaman itu. Ia nyata malu ….
Sesudah bercakap-cakap seperlunya, kami bertiga permisi pulang. Kami mengambil jalan melalui kedai-kedai, dan pasar pula. Tapi pikiran saya terus melayang. Melayang memikirkan satu soal, – soal wanita.

 

(hal 8 bersambung…..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s